JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, Filippo Grandi, telah melakukan pertemuan penting dengan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, di Damaskus. Pertemuan ini diadakan sebagai bagian dari upaya untuk merencanakan tindakan bantuan bagi sekitar 250.000 pengungsi Lebanon yang telah memasuki wilayah Suriah sejak tambahan serangan udara oleh Israel. Grandi menyelesaikan kunjungan mendesak ke Suriah guna mendapatkan dukungan bagi pengungsi yang melarikan diri dari serangan di Lebanon. Dalam pernyataannya, lembaga PBB untuk pengungsi (*UNHCR*) mengungkapkan bahwa Grandi bertemu dengan beberapa pejabat pemerintah Suriah, termasuk Presiden Assad, untuk membahas langkah-langkah dukungan yang tepat bagi para pengungsi yang baru tiba di negara tersebut, serta mereka yang akan menetap di lokasi tujuan akhir. Data dari *UNHCR* menunjukkan bahwa sejak 23 September lalu, setidaknya 250.000 orang telah meninggalkan Lebanon untuk berlindung di Suriah, meskipun kondisi infrastruktur, termasuk jalur utama di perbatasan yang mengalami kerusakan parah, menjadi penghambat bagi banyak orang. Selama berada di Damaskus, Grandi juga melakukan pertemuan dengan donor-donor internasional untuk menggalang dana yang diperlukan, sebesar 324 juta dolar AS atau sekitar Rp5 triliun. Dana ini dimaksudkan untuk mendukung pengungsi Lebanon serta masyarakat yang menerima mereka di Suriah selama enam bulan ke depan. Grandi mengungkapkan rasa terima kasihnya atas sikap pemerintah Suriah yang menjaga perbatasan tetap terbuka bagi orang-orang yang mencari perlindungan. Ia mencatat bahwa sejumlah warga Suriah juga telah kembali ke negara asal mereka, meskipun dalam situasi yang sangat sulit akibat situasi konflik. Dia menekankan pentingnya menjaga keamanan dan keselamatan bagi mereka yang tiba dari Lebanon. Grandi juga menyampaikan informasi kepada Presiden Assad mengenai upaya untuk mengumpulkan sumber daya kemanusiaan yang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan para pengungsi. Sejak awal bulan Oktober, Israel telah melancarkan operasi darat untuk melawan Hizbullah di selatan Lebanon, sementara serangan udara terus berlangsung. Walaupun mengalami kerugian, kelompok Hizbullah tetap berjuang melawan pasukan Israel di lapangan, sekaligus meluncurkan serangan roket ke arah wilayah Israel. Israel mengungkapkan bahwa salah satu tujuan utama dari operasi tersebut adalah untuk menciptakan situasi yang kondusif bagi kembalinya 60.000 penduduk yang terpaksa melarikan diri dari bagian utara negara tersebut akibat serangan artileri yang berlangsung. ANTARA