JAYAPURA –
**Borneonews - Sentani**, Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) melibatkan 74 akademisi dalam diskusi mengenai isu-isu strategis di kawasan Indo-Pasifik, yang berfokus pada peningkatan ekonomi dan keamanan. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka konvensi nasional XV yang dilaksanakan di Papua. Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) AIHII, Agus Haryanto, menyampaikan bahwa ke-74 akademisi tersebut berasal dari 45 lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia. Mereka berkumpul untuk membahas berbagai aspek ilmu hubungan internasional yang relevan dengan kondisi saat ini. Konvensi ini mengusung tema kontestasi pendekatan keamanan tradisional dan non-tradisional di kawasan Indo-Pasifik. Kegiatan ini hasil kerja sama antara AIHII dan Universitas Cenderawasih (Uncen). Kehadiran puluhan akademisi tersebut mencerminkan komitmen kolektif dalam memahami dan mengkaji isu-isu strategis yang dihadapi kawasan ini. Agus menegaskan bahwa perkembangan hubungan internasional sebagai suatu ilmu sangat penting untuk didiskusikan secara rutin. Hal ini dilakukan agar ilmu ini tetap relevan dan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Ia menilai bahwa *international relations* adalah satu disiplin yang hebat, mampu menjangkau dan memahami isu-isu penting, serta merumuskan tindakan yang tepat dalam menjawab tantangan tersebut. Lebih lanjut, Agus menjelaskan pentingnya memberikan ruang bagi sektor industri dan pendidikan agar dapat berkontribusi dalam kemajuan bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari konvensi tersebut, Direktur PT Freeport Indonesia, Claus OR Wamafma, memberikan paparan terkait kondisi perusahaan mereka. Informasi ini diharapkan mampu menambah wawasan bagi para akademisi yang hadir. Agus juga berharap bahwa semua hasil diskusi dan informasi yang diperoleh selama konvensi nasional XV ini akan dikompilasi dan dijadikan referensi bagi proses perkuliahan di bidang hubungan internasional di Indonesia. Ia menekankan pentingnya lulusan ilmu hubungan internasional untuk mampu menganalisis isu-isu global secara kritis, terutama dalam konteks menjaga kedaulatan bangsa di berbagai sektor, termasuk ekonomi dan keamanan. ANTARA