**Borneonews - Washington** Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan tegas pada Rabu, menanggapi ancaman yang disampaikan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Netanyahu memperingatkan bahwa Lebanon akan mengalami "kehancuran dan penderitaan yang serupa dengan yang dialami Gaza" jika rakyat Lebanon tidak mengambil tindakan untuk mengusir kelompok Hizbullah.
Juru bicara Gedung Putih, Karine Jean-Pierre, menjelaskan, "Kami tidak dapat dan tidak akan membiarkan Lebanon berubah menjadi Gaza yang lain. Itu bukan tujuan kami." Dalam pernyataannya, Jean-Pierre menekankan urgensi untuk mengakhiri kesengsaraan yang melanda Gaza dan Lebanon, serta pentingnya membangun pondasi untuk perdamaian dan keamanan yang berkelanjutan di kawasan tersebut.
Jean-Pierre menambahkan bahwa penderitaan yang terjadi di Lebanon "dapat dihindari" jika Hizbullah menghentikan serangan roketnya ke Israel. Ini menunjukkan harapan bahwa dialog dan pengendalian diri dapat mengurangi ketegangan yang terus meningkat.
Sebelumnya, pada hari Selasa, Netanyahu memposting video berbahasa Inggris di platform *X*, yang mendorong masyarakat Lebanon untuk membebaskan diri dari Hizbullah. Dia juga memperingatkan bahwa kegagalan untuk bertindak bisa mengakibatkan Lebanon terjebak dalam "jurang perang panjang", yang berpotensi membawa mereka kepada kehancuran dan penderitaan serupa dengan yang dialami di Gaza.
Kementerian Luar Negeri AS belum memberikan jawaban langsung terkait apakah ancaman tersebut dapat dikategorikan sebagai terorisme. Namun, situasi saat ini menunjukkan semakin meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Israel melancarkan serangan udara besar di Lebanon sejak 23 September, di mana lebih dari 1.323 orang dilaporkan tewas dan hampir 3.700 orang lainnya mengalami luka-luka. Invasi darat ke Lebanon yang dilakukan oleh Israel dimulai pada 1 Oktober dan merupakan eskalasi dari konflik lintas perbatasan yang telah berlangsung selama setahun, terutama sejak serangan brutal Israel di Jalur Gaza.
Meskipun ada peringatan dari komunitas internasional mengenai kemungkinan terjadinya perang regional, Israel masih melanjutkan operasinya. Hizbullah pun merespons dengan meningkatkan intensitas serangan roketnya terhadap Israel, yang mencatat hampir 200 serangan dalam satu hari pada hari Selasa. Beberapa serangan berhasil mengenai kota Haifa, dan dilaporkan dua warga Israel tewas akibat serangan tersebut pada hari Rabu.
Naim Qassem, wakil pemimpin Hizbullah, menegaskan pada hari Selasa bahwa kekuatan militer kelompok itu masih utuh meskipun serangan udara Israel yang intensif telah menyebabkan jatuhnya banyak pejabat tinggi, termasuk Mantan Sekretaris Jenderal Hassan Nasrallah yang dibunuh di Beirut pada bulan lalu. Qassem menambahkannya bahwa organisasi mereka tetap terstruktur dengan baik dan sudah siap menghadapi berbagai tantangan yang ada.
ANTARA
AS Tegaskan Tidak Akan Biarkan Lebanon Menjadi Gaza Kedua
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Wakapolda Kalteng Turun Langsung Atur Lalu Lintas di Palangka Raya?
Fairid Buka Pengawasan Publik Dana Banpres Rp10 Miliar, 2 Hari Ditargetkan Mulai Berjalan
DPPPAPPKB Kotim Dorong Kampung KB Lebih Mandiri, Partisipasi Masyarakat Jadi Kunci
Upaya Kendalikan Cuaca Kalteng, 7 Sortie OMC Tabur 4,5 Ton Dry Ice dan 2 Ton NaCl
Iran Sebut Kawasan Timur Tengah akan Berubah Total Pascaperang
Polres Seruyan Gelar Operasi Patuh Telabang 2026, Utamakan Langkah Pencegahan
Komentar (0)
Memuat komentar…







