**Borneonews - Jakarta**, Kantor Penelitian Makroekonomi ASEAN+3, atau yang lebih dikenal dengan sebutan *ASEAN+3 Macroeconomic Research Office* (AMRO), telah mengeluarkan peringatan kepada negara-negara di kawasan ASEAN+3 mengenai sejumlah risiko yang dihadapi. Peringatan tersebut mencakup kemungkinan kenaikan inflasi, ketegangan geopolitik yang meningkat, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi secara global.
Kepala Ekonom AMRO, Hoe Ee Khor, menyampaikan dalam sebuah konferensi pers virtual yang dilakukan pada peluncuran Laporan Stabilitas Keuangan ASEAN+3 (ASEAN+3 Financial Stability Report/AFSR) 2024, bahwa dalam waktu dekat, ekonomi kawasan tersebut harus tetap waspada terhadap potensi risiko yang dihadapi. Ia mencatat bahwa secara umum, risiko terhadap stabilitas keuangan di seluruh ASEAN+3 pada tahun 2024 menunjukkan kemungkinan yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2023.
Saat ini, adanya iklim pertumbuhan yang kuat disertai dengan disinflasi memberikan kesempatan bagi para pembuat kebijakan di kawasan ini untuk melakukan berbagai langkah strategis, seperti pengurangan utang, rekonstruksi ruang kebijakan, serta penguatan kapasitas fiskal. Usaha ini diharapkan mampu mengelola potensi guncangan dengan lebih efektif. Hoe menekankan pentingnya pengisian kembali cadangan devisa selama periode arus masuk modal, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pasar serta memberikan bantalan terhadap volatilitas pasar yang ekstrem.
Ia juga menggarisbawahi perlunya pemantauan yang berkelanjutan terhadap dampak yang ditimbulkan dari kondisi internasional. Hal ini penting dilakukan bersamaan dengan peningkatan pengawasan serta kerja sama di bidang makroekonomi dan keuangan di tingkat regional. Beberapa langkah penting yang disarankan antara lain adalah memperkuat pengawasan lintas batas, berbagi informasi data, melakukan *stress test* untuk kawasan, serta memperkuat mekanisme pengaman keuangan di tingkat regional.
Di tengah situasi yang ada, paruh pertama tahun 2024 menunjukkan adanya pelonggaran dalam kondisi keuangan global. Hal ini terjadi seiring dengan keputusan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang telah mulai mengakhiri siklus kenaikan suku bunga kebijakannya. Meskipun demikian, pada kuartal III-2024, ketidakpastian mengenai prospek perekonomian AS dan berakhirnya transaksi *yen carry trades* menyebabkan gejolak pasar yang cukup signifikan.
Sejak bulan September, Federal Reserve telah mengadopsi kebijakan pelonggaran moneternya, yang berimplikasi pada kelonggaran kondisi moneter di pasar. Namun, ketidakpastian mengenai inflasi dan prospek pertumbuhan tetap menghantui. Selain itu, kondisi geopolitik di Timur Tengah yang rapuh dan hasil pemilihan presiden di AS yang akan datang juga berkontribusi sebagai sumber ketidakpastian bagi pasar keuangan global.
Dalam laporan AFSR 2024, diungkapkan bahwa ASEAN+3 tetap rentan terhadap guncangan makro-keuangan yang berasal dari ekonomi maju lainnya serta faktor eksternal. Interkoneksi yang semakin berkembang di dalam sistem keuangan kawasan ini menekankan perlunya pendekatan makroekonomi yang holistik guna melindungi kawasan dari risiko sistemik.
Lebih jauh, penurunan pasar properti yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 serta inflasi yang tinggi telah menimbulkan kekhawatiran tambahan. Permintaan yang melemah dan kondisi keuangan yang lebih ketat di beberapa negara memberi dampak negatif pada kesehatan keuangan pengembang properti. Hal ini berpotensi menurunkan profitabilitas, likuiditas, dan kapasitas mereka untuk membayar utang.
Meskipun penyangga modal yang kuat pada sektor perbankan tampaknya telah mereduksi risiko spillover dari pasar properti, ancaman dari bank-bank lokal yang lebih kecil serta aktivitas perbankan bayangan di sektor properti tetap ada. Oleh karena itu, tindakan pemantauan yang hati-hati dan kemungkinan intervensi regulasi sangat diperlukan.
Untuk mengatasi tantangan yang ada dan menjaga stabilitas sektor properti, langkah-langkah yang efektif harus diambil. Ini bertujuan untuk mencegah kegagalan perusahaan yang secara fundamental sehat akibat pressure kredit yang buruk, sekaligus meningkatkan kesehatan lembaga keuangan yang memiliki eksposur signifikan, termasuk bank-bank yang lebih kecil dan lembaga keuangan nonbank.
"Kawasan ini harus bersatu dalam menghadapi risiko dan tantangan jangka pendek maupun jangka panjang terhadap stabilitas keuangan ASEAN+3, serta berupaya untuk mencapai ketahanan dan stabilitas," kata Hoe menutup pernyataannya.
ANTARA
Waspadai Risiko Inflasi dan Perlambatan Pertumbuhan Global di ASEAN+3
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
SMAN 3 Kasongan Siapkan Pembelajaran Lebih Interaktif
Berangkat dari Pengetahuan Warga Kinipan, Enam Siswa di Kalteng Teliti Bobah Bebara
Satresnarkoba Polres Seruyan Tangkap Pengedar Sabu di Rungau Raya, 14 Paket Disita
Kemenpar Harap Sepak Bola Sebagai Sport Tourism Promosikan Pariwisata
DPKP Tingkatkan Pemantauan Kesehatan Hewan di Tengah Ancaman Kabut Asap
Pelajar SMA Palangka Raya Raih Medali Emas Kompetisi Riset Internasional
Komentar (0)
Memuat komentar…







