PADANG –
**Borneonews - Padang**, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat, Albert Hendra Lukman, mengungkapkan bahwa Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki potensi yang signifikan untuk pengembangan *carbon capture* serta sektor perikanan. Menurutnya, jika dibahas tentang wilayah yang memiliki kemampuan dalam penangkapan dan penyimpanan karbon, tentunya Kabupaten Kepulauan Mentawai menjadi salah satu yang terdepan. Meskipun potensi untuk menjadi daerah dengan kemampuan *carbon capture storage* (CCS) cukup besar, hingga saat ini realisasi dari program tersebut masih belum terjadi di daerah ini. Kondisi geografis Kabupaten Kepulauan Mentawai yang merupakan kawasan kepulauan dan dikelilingi oleh perairan Samudera Hindia memberikan peluang luar biasa bagi pengembangan perikanan, baik penangkapan maupun budidaya. Potensi ini sangat perlu dioptimalkan dengan sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Albert menjelaskan keyakinannya bahwa, dengan dukungan pemerintah untuk pengembangan budidaya komoditas seperti lobster, ikan kerapu, rumput laut, dan kepiting, dapat berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Mentawai. Hal ini diharapkan dapat mempercepat transisi Kabupaten Mentawai dari status daerah tertinggal menjadi lebih maju. Di sisi lain, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumbar, Reti Wafda, menyatakan bahwa saat ini terdapat antara enam hingga tujuh kelompok pembudidaya ikan kerapu yang beroperasi di Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Mentawai. Namun, ia menilai bahwa pengembangan ini perlu ditingkatkan lebih lanjut untuk meningkatkan nilai ekspor dari Provinsi Sumbar dan juga untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Sebagai informasi tambahan, pada medio Agustus 2024, Provinsi Sumbar berhasil mengekspor 11 ton ikan kerapu dengan tujuan Hong Kong, yang menghasilkan nilai sekitar Rp2 miliar. Sepanjang tahun 2024, Sumbar telah melaksanakan dua kali pengiriman ekspor ikan kerapu ke negara tersebut. ANTARA