JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kantor Penelitian Makroekonomi ASEAN+3, yang dikenal sebagai *ASEAN+3 Macroeconomic Research Office* (AMRO), menyatakan bahwa perlu ada dorongan untuk penggunaan mata uang lokal dalam sistem keuangan lintas batas ASEAN+3. Langkah ini dianggap penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan untuk menjaga ketahanan ekonomi di kawasan tersebut. Kepala Ekonom AMRO, Hoe Ee Khor, menjelaskan dalam sebuah konferensi pers virtual yang diadakan berkaitan dengan Laporan Stabilitas Keuangan ASEAN+3 (ASEAN+3 Financial Stability Report/AFSR) 2024, bahwa pengurangan ketergantungan struktural pada dolar AS harus menjadi prioritas utama. Langkah ini sebaiknya dilakukan melalui promosi mata uang lokal dan pengembangan sistem pembayaran lintas mata uang dalam kurun waktu menengah hingga panjang. Dalam pandangannya, kolaborasi antar otoritas di kawasan ASEAN+3 sangatlah penting untuk mengurangi ketergantungan yang mengakar pada dolar AS serta meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam setiap aktivitas ekonomi. Hoe juga mengingatkan bahwa ketergantungan yang tinggi terhadap dolar AS menjadikan ekonomi ASEAN+3 lebih rentan terhadap dampak dari perubahan dalam kondisi makro keuangan global, khususnya yang berasal dari Amerika Serikat. Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa ketergantungan yang besar terhadap dolar AS dapat menimbulkan dua risiko utama. Risiko pertama adalah potensi kekurangan pendanaan dalam mata uang dolar, yang dapat mengganggu stabilitas pasar keuangan serta perantara keuangan. Risiko kedua adalah transmisi guncangan global yang terjadi melalui dolar AS, terutama pada saat terjadi pengetatan moneter atau gejolak geopolitik. Untuk itu, AMRO merekomendasikan agar ASEAN+3 memperkuat fundamental ekonomi dan keuangan wilayah tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal yang dipicu oleh ketergantungan pada dolar AS. Ini termasuk memperkuat kerangka pengawasan untuk memantau likuiditas dolar, memperkuat langkah-langkah makroprudensial untuk lembaga keuangan, serta memberikan dukungan finansial kepada negara-negara anggota yang mengalami tekanan likuiditas. Dolar AS masih memegang peranan penting dalam sistem keuangan ASEAN+3, berfungsi sebagai "mata uang kendaraan" yang umum digunakan untuk transaksi internasional. Dolar AS sering kali menjadi pilihan dalam penagihan dan pembayaran perdagangan, serta dijadikan pilihan investasi dan pinjaman lintas batas. Peralihan dari penggunaan dolar AS menuju mata uang lokal di kawasan ASEAN+3 diharapkan dapat dilaksanakan secara bertahap. Ini dapat tercapai dengan meningkatkan pemanfaatan mata uang lokal dalam transaksi komersial lintas batas. Namun, adopsi secara luas masih harus menghadapi sejumlah tantangan, termasuk isu biaya, kemudahan, kecepatan, akses, dan transparansi. Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa Indonesia sedang memperluas kerja sama *Quick Response Code Indonesian Standard* (QRIS) dengan negara-negara lain, termasuk Korea Selatan dan India. Sebelumnya sudah ada kerja sama dengan Malaysia, Thailand, dan Singapura. Perry mencatat bahwa mereka juga telah menandatangani nota kesepahaman terkait kerja sama QR dengan Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Jepang, dan India. Inisiatif QRIS antarnegara ini bertujuan untuk memberikan kemudahan, efisiensi, dan keamanan dalam konektivitas pembayaran ritel lintas negara. ANTARA