JAKARTA –
**Borneonews - Kinshasa, Republik Demokratik Kongo**, Pemerintah Kongo melaksanakan upacara pemakaman massal pada hari Rabu di wilayah North Kivu bagi korban dari kecelakaan feri yang tragis. Kecelakaan tersebut mengakibatkan lebih dari 78 orang kehilangan nyawa. Upacara tersebut berlangsung di daerah Nyirangongo, Makao, dan dihadiri oleh berbagai pemimpin sektoral serta perwakilan dari kelompok-kelompok sipil. Acara ini juga dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri dan Urusan Sosial. Dalam momen yang penuh emosi ini, pihak keluarga korban diundang untuk mengunjungi kamar jenazah di Goma guna mendapatkan informasi terkini mengenai para korban yang masih hilang. Para keluarga terlihat mengalami kesulitan emosional akibat ketidakpastian yang menyelimuti situasi tersebut, mengingat masih banyak korban yang belum ditemukan. Meskipun pihak berwenang mengumumkan bahwa operasi pencarian masih berlangsung, mereka juga mengingatkan keluarga untuk tidak berharap terlalu banyak, mengingat kecilnya kemungkinan menemukan korban selamat. Di tengah duka yang mendalam, beberapa anggota keluarga mengungkapkan ketidakpuasan terhadap apa yang mereka anggap sebagai keputusan sepihak yang mengabaikan kehendak mereka. Sementara sebagian orang memilih untuk menghentikan masa berkabung, ada pula yang tetap menaruh harapan terhadap upaya pencarian yang terus dilanjutkan di Danau Kivu. Sebagai respons atas insiden ini, pihak berwenang melakukan pemecatan terhadap komisaris yang bertanggung jawab atas navigasi danau serta sungai. Kementerian Perhubungan juga telah memerintahkan inspeksi teknis terhadap kapal-kapal yang beroperasi. Di samping itu, tindakan hukum akan diambil terhadap individu-individu yang dianggap bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi saat feri MV Merdi terbalik beberapa meter dari titik tujuan pada Kamis lalu. Insiden tersebut telah menimbulkan duka mendalam di provinsi Kivu Utara dan Selatan. Berita buruk berlanjut dengan keterangan dari pihak otoritas bahwa banyaknya korban masih terjebak di bawah permukaan danau. Di Kongo, kecelakaan kapal bukanlah hal yang asing. Laporan dari kelompok-kelompok masyarakat sipil mengkritik pemerintah karena ketidakmampuannya dalam menegakkan peraturan keselamatan, yang memungkinkan kapal beroperasi tanpa aturan batas berat yang jelas. Selain itu, mereka juga menyoroti kelalaian dalam menyediakan rompi keselamatan bagi para penumpang. ANTARA