SEMARANG –
**Borneonews - Purwokerto, Jateng**, Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Abdul Aziz Ahmad, mengemukakan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah proaktif dalam mengendalikan deflasi. Ini penting agar harga berbagai komoditas, khususnya yang berkaitan dengan pangan, tidak terus mengalami penurunan seperti yang terlihat dalam lima bulan terakhir. Abdul Aziz menjelaskan bahwa perhatian pemerintah selama ini lebih terfokus pada penanganan kenaikan harga. Sebaliknya, penanganan terhadap penurunan harga, seperti deflasi, masih menjadi kekhawatiran. "Fenomena ini sudah berlangsung cukup lama, namun belum ada cukup perhatian dari pemerintah," ujarnya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dia menyampaikan bahwa baik inflasi maupun deflasi merupakan bagian dari kondisi umum ekonomi yang melibatkan rata-rata dari seluruh komoditas yang ada. Inflasi, kata dia, terjadi ketika harga-harga cenderung meningkat, dan hal ini penting dalam mendorong produktivitas produsen. Di sisi lain, deflasi dapat melemahkan perekonomian karena mencerminkan penurunan daya beli masyarakat. Hal ini terjadi karena barang dan jasa yang ada di pasar dianggap kurang menarik. Dalam analisisnya, Abdul Aziz menyebutkan bahwa meskipun beberapa produk mengalami kenaikan harga, namun ada juga yang mengalami penurunan. Hal ini memengaruhi penghitungan inflasi dan deflasi karena melibatkan bobot dari setiap komoditas. Dia mencatat, jika deflasi berlanjut dalam waktu lama, efek berantai atau *multiplier effect* dapat menurunkan harga produk lainnya. "Secara keseluruhan, kondisi saat ini masih dapat dikatakan terkendali karena banyak komoditas lain masih mengalami kenaikan harga," katanya. Dia juga mengakui bahwa deflasi selama lima bulan terakhir dipicu oleh penurunan harga komoditas pangan tertentu, yang disebabkan oleh pasokan sayuran yang melimpah akibat musim panen. Oleh karena itu, Abdul Aziz menekankan perlunya perhatian lebih terhadap petani, karena mereka adalah pihak yang paling terdampak dari fenomena deflasi ini. Stabilitas harga menjadi target utama, bukan harga yang cenderung tinggi secara konsisten atau harga yang terus mengalami penurunan. Dia menambahkan bahwa harga komoditas pangan sangat fluktuatif, dan dalam beberapa bulan terakhir, sebagian besar harga cenderung turun. Mengenai solusi untuk mengendalikan deflasi, dia mengemukakan beberapa pendekatan. Salah satunya, membiarkan kondisi ini karena pada umumnya menjelang akhir tahun harga beberapa komoditas pangan seperti daging dan telur akan mengalami kenaikan. Kenaikan harga ini biasanya bersifat musiman dan diharapkan akan kembali stabil. "Jika pemerintah ingin mengambil langkah khusus, upaya untuk memberikan dukungan kepada petani sangat diperlukan agar mereka tidak terlalu merugi. Kondisi ini berbeda dengan masa lalu, di mana Bulog dapat lebih mudah mengatasi masalah tersebut," ujarnya. Disisi lain, Abdul Aziz menegaskan pentingnya menemukan cara untuk mencegah harga komoditas pangan terus menurun. Dia mencatat, distribusi menjadi salah satu masalah penting. Daerah tertentu, seperti Purwokerto, tidak memproduksi sayuran secara lokal, sehingga harga cenderung stabil. Namun, di daerah penghasil sayuran, harga justru cenderung turun. Abdul Aziz menyarankan agar distribusi komoditas pangan, terutama sayuran, perlu diperbaiki agar dapat menjaga stabilitas harga pada level yang normal. "Rantai pasokan harus dioptimalkan sehingga mampu mendatangkan manfaat yang kembali ke keadaan normal," tutupnya. ANTARA