JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Wakil Menteri Pertahanan M. Herindra mengajukan usulan untuk menghentikan impor peluru kaliber kecil saat membuka Rapat Pleno Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) 2024. Rapat tersebut berlangsung di Kantor Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, pada hari Kamis. M. Herindra menjelaskan bahwa industri pertahanan dalam negeri, termasuk perusahaan seperti PT Pindad, kini memiliki kemampuan untuk memproduksi peluru kaliber kecil, seperti yang berukuran 5,56 mm dan 7,62 mm. Ia dengan tegas menyatakan pentingnya mengutamakan produksi dalam negeri dengan mengatakan, "Setop kalau perlu, saya sampaikan kepada *end user* bahwa saya melihat izin impor untuk kaliber 5,56 mm dan 7,62 mm. Kenapa kita tidak bisa membeli dari dalam negeri? Jika untuk pasukan khusus, mungkin bisa dipertimbangkan." Ia mencatat bahwa mendukung produk dalam negeri, seperti peluru dan pistol, sangat penting dalam rangka membangun kemandirian industri pertahanan di Indonesia. Herindra juga memberikan contoh mengenai pistol G2 yang diproduksi oleh Pindad. Ia berharap pistol tersebut dapat dipakai oleh Filipina, dan menyebutkan bahwa dengan keberhasilan produk dalam negeri, akan muncul peluang untuk senapan serbu SS1 dan SS2 yang juga diproduksi oleh Pindad. Dalam kesempatan tersebut, Wamenhan juga menekankan pentingnya pembelian kendaraan taktis yang diproduksi sebagiannya di dalam negeri. Meskipun diakui bahwa harga kendaraan tersebut mungkin lebih tinggi dan belum sempurna, Herindra meminta dukungan terhadap industri dengan mengingatkan TNI untuk menggunakan kendaraan taktis tersebut. Kementerian Pertahanan RI telah melakukan pengadaan puluhan unit kendaraan taktis Maung yang manufactured oleh Pindad untuk digunakan oleh TNI. Ia menyoroti bahwa lebih dari 60 persen komponen kendaraan tersebut berasal dari dalam negeri. "Maung itu memang mahal dan belum sempurna, tetapi saya katakan kepada TNI, gunakan! Jangan bandingkan dengan kendaraan yang sudah *developed* dan maju. Ada yang mengatakan, 'Pak, mobil LC (Land Cruiser) lebih murah,' tetapi itu adalah produk impor," ujar M. Herindra. Ia merasa optimis bahwa harga kendaraan taktis Maung akan bersaing seiring bertambahnya pemesanan. Jika jumlah pesanan Maung mencapai 20.000 unit, diperkirakannya harga kendaraan akan berangsur menurun. Ia mencontohkan, "Ingatkah kita dahulu sering mencemooh India? Mereka dulunya menggunakan mobil-mobil tua seperti Willys, tetapi sekarang industri pertahanan di India sangat luar biasa. Jika kita tidak mau menggunakan produk buatan dalam negeri, lalu siapa lagi yang akan memakai?" Rapat Pleno KKIP kali ini mengangkat tema "Kemandirian Industri Pertahanan Menuju Indonesia Emas 2045". ANTARA