**Borneonews - Mataram**, Sejumlah pengusaha asal Tiongkok yang berstatus sebagai warga negara asing telah membantah tuduhan mengenai penjualan mutiara impor secara ilegal di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pernyataan ini diungkapkan oleh Qian Jiacheng, salah satu pengusaha yang terlibat, dalam acara yang berlangsung di Mataram.
Qian menekankan bahwa tidak ada aktivitas impor yang dilakukan oleh mereka. Sebaliknya, mereka mengklaim telah membantu memasarkan produk mutiara lokal ke pasar internasional, utamanya kepada klien dari Tiongkok. "Kami berupaya agar produk mutiara asal Lombok dapat dikenal lebih luas di luar negeri," ungkapnya.
Sebagai bukti, Qian menyajikan dua dokumen transaksi yang mencatat pembelian mutiara dari pengusaha lokal di Mataram pada bulan Juli 2024. Dalam transaksi yang dilakukan pada tanggal 14 Juli, Qian melalui PT Star Light Mutiara telah membeli 320 butir mutiara dengan total berat mencapai 1 kilogram dari Ana Pearls yang berlokasi di Sekarbela, Mataram. Nilai transaksi tersebut tercatat sebesar Rp1,15 miliar.
Selanjutnya, pada tanggal 17 Juli 2024, PT Star Light Mutiara juga melakukan pembelian 1.761 butir mutiara seberat 1,27 kilogram dari CV NR Lombok Pearl dengan harga Rp482 juta. Terkait dengan keabsahan usahanya, Qian menegaskan bahwa PT Star Light Mutiara telah mendapatkan pengesahan resmi dari Kementerian Hukum dan HAM, serta nomor induk berusaha yang sah untuk kegiatan perdagangan besar hasil perikanan, termasuk mutiara.
Pengusaha tersebut juga menambahkan bahwa perusahaan yang dimilikinya telah terdaftar sebagai perusahaan penanaman modal asing (PMA) dan ia sendiri telah memiliki *KITAS* (kartu izin tinggal terbatas) dari pihak imigrasi.
Menyikapi pengamanan terhadap sepuluh WNA asal Tiongkok oleh Kantor Imigrasi Mataram pada tanggal 7 Oktober, Qian menyatakan kekecewaannya. Ia menjelaskan bahwa para pengunjung tersebut hanyalah tamu yang datang untuk membeli mutiara lokal yang kemudian akan mereka jual kembali di Tiongkok. Qian mengklaim bahwa tindakan tersebut telah menyebabkan beberapa tamu dari Tiongkok membatalkan rencana kunjungannya ke Lombok.
"Sebenarnya tujuan kedatangan kami adalah untuk membantu memasarkan produk mutiara lokal. Kami bukan berniat untuk bersaing, tetapi justru ingin menjalin kolaborasi dan kerja sama," tegas Qian. Dia juga mengungkapkan bahwa bersama rekan-rekan sesama pengusaha mutiara dari Tiongkok, mereka berkomitmen untuk mempromosikan produk mutiara asal Lombok yang terkenal akan kualitasnya di tingkat dunia, terutama di pasar Tiongkok yang sangat besar.
Lebih lanjut, Qian menjelaskan bahwa mereka sering mengajak tamu untuk berkunjung ke toko-toko mutiara di Lombok dan menyaksikan langsung proses budidaya mutiara di daerah tersebut. Rizky Akbar, pengusaha mutiara dari Kota Mataram yang bergabung dalam PT Dua Saudagar Mutiara, juga mengamini pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa peran pengusaha Tiongkok sangat penting dalam menyalurkan produk mutiara Lombok ke pasar internasional.
Rizky menuturkan, "Secara logika, jika mereka benar-benar melakukan impor, tentu ada pemeriksaan dan pajak di bandara setiap barang yang dibawa. Jauh lebih mahal jika mereka ingin menjual produk itu kembali di Indonesia, terutama di Lombok."
Sementara itu, Iskandar, seorang pramuwisata di Pulau Lombok, mencatat peningkatan signifikan dalam kunjungan wisatawan asal Tiongkok. "Dalam sebulan terakhir, saya telah menerima sekitar 300 tamu asal Tiongkok. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan masa pandemi COVID-19," ungkap Iskandar. Ia membagikan pengalamannya yang sering merasa kewalahan saat melayani rombongan tamu dari Tiongkok, sampai harus meminta bantuan rekan-rekan biro perjalanan dan hotel untuk mengatasi okupansi yang mendadak tinggi.
"Kami tidak masalah dengan jumlah tamu yang meningkat, tetapi saya harus segera menghubungi rekan-rekan yang ada di lapangan untuk membantu menangani pengunjung," tuturnya.
ANTARA
Pengusaha Tiongkok Bantah Jual Mutiara Impor Ilegal di Lombok
Bagikan:

MATARAM –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Pembangunan Jembatan Walter Condrad Kotim Ditarget Rampung Desember 2026
Sastra Tutur Dayak Terancam Terpinggirkan, Masyarakat Diajak Lestarikan Bahasa Daerah
Faridawaty Apresiasi Walikota Palangka Raya Terbuka soal Banpres Rp10 Miliar, Dorong Daerah Lain Transparan
Bupati Kotim Tinjau Pembangunan Rumah Anak Korban Perundungan
Pengepul Pertalet di Kapuas yang Diringkus Ditpolairud Polda Kalteng beli BBM Subsidi dengan Harga Rp 470 per Jeriken
Bupati Seruyan Minta Pelajar Hindari Bullying
Komentar (0)
Memuat komentar…







