JAKARTA –
**Borneonews - Batam**, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengemukakan bahwa penerapan *modeling* budi daya lobster yang dilakukan di Balai Perikanan Budi Daya Laut di Batam, Kepulauan Riau, berpotensi menghasilkan pendapatan mencapai Rp48 miliar. Hal ini dapat dicapai dengan membangun sekitar 2.000 keramba jaring apung yang dirancang khusus untuk kegiatan budi daya tersebut. Dalam satu siklus panen, Trenggono menjelaskan, diperkirakan akan dihasilkan sebanyak 120 ton lobster dalam waktu kurang lebih satu tahun. "Nilai dari 120 ton tersebut bisa mencapai sekitar Rp48 miliar. Dari satu lokasi budi daya ini, kita bisa menghasilkan produktivitas yang signifikan," ungkapnya saat acara peresmian *modeling* Budi Daya Lobster di Batam. Lebih lanjut, Trenggono menekankan bahwa angka tersebut hanya mencerminkan hasil dari satu tempat budi daya. Ia menargetkan untuk mengembangkan praktik budi daya lobster ini secara luas di seluruh penjuru Indonesia. Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor lainnya. Trenggono juga menggarisbawahi bahwa perairan di Kepulauan Riau sangat sesuai untuk pengembangan budi daya lobster. Keberadaan lokasi ini akan menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 600 orang, yang berarti membuka peluang bagi 600 keluarga di wilayah tersebut untuk mendapat penghidupan yang lebih baik. Proyek *modeling* budi daya lobster di Batam merupakan yang keempat, setelah sebelumnya dilakukan di Kebumen untuk budi daya udang, Wakatobi untuk budi daya rumput laut, dan Karawang untuk budi daya ikan nila salin. Proyek ini diarahkan untuk mengintegrasikan setiap tahapan dalam proses budi daya, mulai dari *nursery*, *on-farm* (KJA/kerangkeng pembesaran, serta kawasan budidaya kekerangan sebagai pakan), sampai dengan tahapan hilir yang meliputi gudang beku dan unit pengolahan lobster. Inisiatif ini juga bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, menyebarluaskan teknologi budi daya lobster, serta meningkatkan jumlah ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan kesejahteraan para pembudi daya. Pada akhirnya, semua upaya ini diharapkan dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi regional dan juga peningkatan pajak serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Lobster memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dan merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia. Negara kita memiliki potensi sumber daya *benih bening lobster* (BBL) yang melimpah, dengan estimasi potensi BBL di sebelas Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Republik Indonesia mencapai 465.793.021 ekor, sebagaimana tercantum dalam Kepmen KP No. 28 Tahun 2024. Menurut data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, volume produksi budi daya lobster di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 433 ton, dengan nilai estimasi sebesar Rp179 miliar. Pasar global untuk makanan hasil laut, terutama krustasea seperti lobster, diprediksi akan berkembang pesat, mencapai nilai 53,86 miliar dolar AS pada tahun 2030. Saat ini, negara-negara tujuan utama ekspor lobster Indonesia meliputi China yang menyerap 47 persen, Taiwan 24 persen, dan Australia 13 persen. ANTARA