**Borneonews - Solo**, Masuk ke dalam konteks sejarah bangsa Indonesia, nama besar Soekarno sudah sangat lekat di ingatan masyarakat, baik sebelum kemerdekaan maupun setelahnya. Soekarno, yang merupakan presiden pertama Republik Indonesia, dikenal dengan orasi yang menginspirasi, memposisikannya sebagai "penyambung lidah rakyat". Julukan ini juga terungkap dalam wawancara dengan jurnalis asal Amerika Serikat, Cindy Adams, yang kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku berjudul *Sukarno - An Autobiography* pada tahun 1965.
Bahasa, sebagai alat komunikasi, memiliki struktur yang rumit, diibaratkan seperti olahraga yang memiliki aturan main tersendiri. Berbagai aspek dalam bahasa akan menciptakan pola kehidupan yang merefleksikan aktivitas serta karakter manusia. Ludwig Wittgenstein, pemikir asal Austria, dalam karya terkenalnya *Tractatus Logico-Philosophicus*, memperlihatkan bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari konteks aktivitas sosial dan cara manusia berinteraksi.
Dalam konteks tersebut, Soekarno tampaknya sangat memahami pentingnya bahasa sebagai alat untuk menjembatani suara masyarakat dengan kalangan elit politik, baik melalui orasi maupun diplomasi.
Memasuki era modern saat ini, perkembangan bahasa seiring dengan perubahan zaman semakin terbuka. Kini hadir juru bahasa isyarat, yang dapat disebut sebagai "orator senyap", mempunyai peranan penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, terutama bagi penyandang tuli. Para juru bahasa isyarat tidak hanya menerjemahkan kata-kata, tetapi juga menyampaikan nuansa yang kadang tidak dapat dituangkan dalam bentuk tulisan.
Bahasa isyarat sendiri merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sudah ada sejak lama, dan diketahui muncul pertama kali di kota Cratylus, Yunani, pada abad kelima sebelum Masehi. Filsuf Plato pernah menyatakan bahwa jika komunikasi verbal tidak dapat dilakukan, maka alternatif lain yang bisa diterapkan adalah penggunaan isyarat melalui gerakan badan. Pada tahun 2021, data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat ada 300 varian bahasa isyarat yang berbeda di seluruh dunia, sementara di Indonesia terdapat dua jenis utama yaitu Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dan Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI).
Implementasi bahasa isyarat dalam berbagai acara, termasuk di bidang olahraga, menunjukkan kemajuan dalam pengakuan hak asasi manusia. Ini juga terbukti dengan diterapkannya juru bahasa isyarat dalam gelaran Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII yang berlangsung pada tahun 2024 di Solo.
Dalam rangka konferensi pers menjelang pembukaan Peparnas XVII di Hotel The Royal Surakarta Heritage, terdapat kehadiran juru bahasa isyarat bernama Dian Laila. Dia terlihat sangat sibuk dan fokus, berusaha memastikan setiap informasi dalam konferensi pers dapat diterjemahkan dengan tepat menggunakan bahasa isyarat. Ini adalah pengalaman pertama Dian dalam menerjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa isyarat pada sebuah acara olahraga.
Meskipun ini merupakan kali pertamanya di ajang semacam ini, Dian tampil percaya diri dan tidak menunjukkan rasa grogi. Usai menjelaskan informasi dari konferensi, Dian, yang sering diundang dalam acara budaya sebelumnya, mengungkapkan pengalamannya. Dia menyatakan, Sebelumnya saya sering terlibat dalam berbagai event kesenian dan kegiatan pemerintahan.
Dalam Peparnas kali ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyediakan layanan Juru Bahasa Isyarat (JBI) dengan menunjuk 14 juru bahasa isyarat yang akan memberikan pelayanan hingga penutupan acara pada 13 Oktober. Ian, rekan Dian, juga menjelaskan peranan penting dia di media center Peparnas, suaranya melanjutkan, Saya bertugas untuk menerjemahkan informasi di sini setiap pagi.
Ian yang juga merupakan juru bahasa isyarat memiliki pengalaman di berbagai lembaga, termasuk Mahkamah Konstitusi dan media televisi. Meski berkediaman di Palembang, juru bahasa isyarat ini merasa bangga dapat berpartisipasi dalam acara nasional yang berlangsung di kampung halamannya, Solo.
Penerapan bahasa isyarat di ajang olahraga seperti Peparnas tidak hanya memberikan aksesibilitas bagi penyandang tuli, tetapi juga memperkenalkan bahasa ini dalam kultur yang lebih luas, sehingga masyarakat lebih memahami pentingnya komunikasi menggunakan bahasa isyarat. Dian berharap, ke depannya, pemakaian bahasa isyarat akan meluas ke berbagai acara, tidak hanya terbatas pada penyandang disabilitas.
Bahasa isyarat adalah alat komunikasi yang sangat baik, kaya akan ekspresi, dan penting dalam menyampaikan nuansa percakapan, tutup Dian. Penggunaan bahasa isyarat, menurutnya, juga berkontribusi pada pengembangan intelektual dengan melatih keseimbangan otak dan meningkatkan kemampuan berpikir.
Dengan harapan agar juru bahasa isyarat terus berkembang, Dian mengajak masyarakat untuk lebih mengenal keberadaan mereka. Dia menyatakan, Semoga masyarakat semakin paham bahwa bahasa isyarat merupakan bagian penting dalam komunikasi, terutama bagi penyandang disabilitas.
ANTARA
Peran Juru Bahasa Isyarat dalam Meningkatkan Aksesibilitas di Peparnas XVII
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Guru SDN di Banjarmasin Jadi Tersangka Pelecehan Siswi 12 Tahun
Mentan: Pengadaan Bulog Perkuat Cadangan Beras Pemerintah
Triple-double Embiid bawa 76ers Kalahkan Bucks 127-116
Wamen LH: Jaga Kelestarian Ekosistem Perairan Dimulai dari Daratan
Jet Tempur AS Cegat Pesawat umum Dekat Kediaman Trump di Florida
Peneliti Jepang Temukan Tutup Botol Bawa Ekosistem Laut Filipina
Komentar (0)
Memuat komentar…







