**Borneonews - Jakarta Selatan**, Polisi dari Polres Metro Jakarta Selatan telah memberikan klarifikasi terkait insiden penganiayaan yang melibatkan seorang siswa di Madrasah Aliyah As-Syafi'iyah 01, yang terletak di Bukit Duri, Tebet. Kejadian tersebut berlangsung pada Selasa, 8 Oktober 2024, sekitar pukul 11.45 WIB. Pihak kepolisian menegaskan bahwa insiden yang terjadi bukan tergolong sebagai *bullying* atau perundungan, melainkan merupakan sebuah pertarungan satu lawan satu.
Kombes Pol Ade Rahmat Idnal, Kapolres Metro Jakarta Selatan, menjelaskan kepada wartawan bahwa telah dilakukan sebuah analisis menyeluruh terkait kasus ini. "Jadi bukan *bullying*. Tetapi berkelahi satu lawan satu dan terduga pelakunya adalah satu orang," jelasnya dalam konferensi pers yang berlangsung di Jakarta.
Saat ini, tim dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) telah terjun ke lokasi untuk mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi dalam rangka proses penyelidikan. Hingga saat ini, telah ada lima saksi yang memberikan keterangan, di mana sebagian besar adalah pelajar, serta seorang penjaga sekolah yang menyaksikan insiden tersebut.
Namun, di sisi lain, kuasa hukum keluarga korban, Saut Hamonangan, memberikan informasi yang berbeda mengenai jumlah pelaku yang terlibat. Menurut Saut, berdasarkan pengakuan orang tua korban, pelaku terdiri dari lebih dari satu orang. Ia menekankan bahwa "Dalam laporan polisi hanya satu, namun dari keterangan yang kami dapat, pelakunya itu kurang lebih 10 orang."
Saut juga mengungkapkan bahwa korban telah menjalani operasi di bagian kepala akibat pukulan yang keras, dan sampai saat ini, korban belum juga sadarkan diri. Ia meminta kepada pihak sekolah untuk menyediakan rekaman dari kamera pengawas (*CCTV*) guna membantu proses investigasi terkait dugaan keterlibatan sepuluh siswa dalam kasus tersebut.
"Kami mohon agar pihak sekolah dapat mengonfirmasi jumlah pelaku. Informasi ini kami dapatkan dari Bapak Mukti, ayah korban," ungkap Saut. Ia berharap bahwa pihak sekolah mampu memberikan perlindungan yang maksimal bagi siswa-siswanya dan tidak menghilangkan atau menyembunyikan bukti-bukti terkait insiden penganiayaan tersebut.
Mengacu pada keterangan Mukti, ayah korban, saat kejadian, anaknya ditarik oleh kakak-kakak kelas 12 dan 11 keluar dari area sekolah. Selanjutnya, disusul dengan pemukulan yang membuat korban mengalami memar dan tidak sadarkan diri. Salah satu saksi kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pihak sekolah.
Setelah insiden tersebut, sekolah menghubungi keluarga korban dan melakukan tindakan dengan membawa anak tersebut ke Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih. Menurut penjelasan, terdapat seorang siswa yang melakukan tindakan membawa korban ke rumah sakit dan diidentifikasi sebagai salah satu pelaku bernama N, yang juga dibenarkan oleh guru di sekolah tersebut.
ANTARA
Penganiayaan Siswa di Jakarta Selatan, Bukan Kasus Bullying
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Adam Alis Cetak Gol Penentu Kemenangan Persib atas Garudayaksa 2-1
Hujan Perdana Banjarbaru Diwarnai Pohon Tumbang Akibat Angin Kencang
Kebakaran Hebat Hanguskan 4 Rumah dan 1 Masjid di Kotim
Saingi China, Pabrik Mobil Jepang Pangkas Masa Pengembangan Model Baru
PDIP Dukung Revisi UU Peradilan Militer Pascaputusan MK
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
Komentar (0)
Memuat komentar…







