BORNEONEWS, Palangka Raya - Selama bulan September 2024, sebagian besar provinsi di Pulau Kalimantan mengalami kenaikan Nilai Tukar Petani atau NTP. Kalimantan Barat mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,67 persen, diikuti oleh Kalimantan Utara dengan 0,36 persen, dan Kalimantan Timur sebesar 0,16 persen.
Namun, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan justru mengalami penurunan NTP masing-masing sebesar 0,27 persen dan 0,24 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyatakan bahwa penurunan NTP di Kalimantan Tengah disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk fluktuasi harga komoditas pertanian dan biaya produksi yang meningkat.
"Penurunan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh petani di Kalimantan Tengah dalam menjaga keseimbangan antara pendapatan dan biaya produksi," ujar Agnes pada Kamis, 10 Oktober 2024.
Selain NTP, lanjut Agnes, Nilai Tukar Usaha Pertanian atau NTUP juga menunjukkan tren yang serupa. Sebagian besar provinsi di Pulau Kalimantan mengalami kenaikan NTUP pada September 2024, kecuali Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,27 persen dan 0,30 persen. Kenaikan NTUP terbesar tercatat di Kalimantan Barat dengan 1,75 persen, sedangkan kenaikan terkecil tercatat di Kalimantan Timur sebesar 0,03 persen.
Agnes Widiastuti menambahkan bahwa penurunan NTUP di Kalimantan Tengah menunjukkan adanya tekanan yang lebih besar pada usaha pertanian di provinsi tersebut.
"Ini adalah indikasi bahwa usaha pertanian di Kalimantan Tengah menghadapi tantangan yang signifikan, terutama dalam hal efisiensi dan produktivitas," jelasnya.
Secara keseluruhan, lanjutnya, Kalimantan Barat masih memegang posisi tertinggi baik dalam NTP maupun NTUP pada September 2024, dengan nilai masing-masing sebesar 157,81 dan 161,90. Sebaliknya, Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan NTP dan NTUP terendah, yaitu 112,74 dan 113,67. Kalimantan Tengah menempati urutan ketiga tertinggi se-Kalimantan, dengan NTP sebesar 125,38 dan NTUP sebesar 128,30.
Agnes Widiastuti berharap bahwa dengan adanya data ini, pemerintah daerah dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Kalimantan Tengah.
"Kami berharap data ini dapat menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan yang lebih efektif dalam mendukung sektor pertanian di Kalimantan Tengah," tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/H)









