SEMARANG –
**Borneonews - Banyumas**, Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang tergabung dalam Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Unit Kegiatan Kemahasiswaan Penalaran dan Riset Unsoed telah berhasil melahirkan 14 wirausahawan baru di Desa Sokawera, yang terletak di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rentang waktu dari bulan Juni hingga Oktober. Untuk lebih memberi fokus, tema yang diangkat adalah Desa Wirausaha dengan kegiatan bertajuk *Optimalisasi Pemanfaatan Komoditas Lokal melalui Integrated Business Berbasis Zero Waste untuk Meningkatkan Kemandirian Desa Sokawera Kecamatan Patikraja*. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Tim PPK Ormawa UKMPR Unsoed, Netika Alifiyah, saat menghadiri evaluasi kegiatan di Balai Desa Sokawera, yang berlangsung pada siang hari Kamis. Netika menjelaskan bahwa pemilihan tema tersebut bertujuan untuk memaksimalkan manfaat dari singkong, yang merupakan komoditas lokal yang cukup melimpah di daerah tersebut. Melalui program ini, warga desa diberikan pelatihan untuk menciptakan berbagai produk olahan dari singkong, di luar penggunaan tradisionalnya yang terbatas pada tape dan tepung mocaf. Dalam program ini, para peserta juga dilatih mengenai teknik pengemasan produk agar lebih menarik di pasar serta strategi pemasaran untuk memperluas jaringan distribusi. Dalam upaya meningkatkan pelatihan, pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Rumah BUMN, Aspikmas (Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Kabupaten Banyumas), serta Masyarakat Singkong Banyumas. Selain fokus pada pengolahan makanan dari singkong, para peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai pembuatan pupuk organik yang memanfaatkan limbah dari tanaman singkong. Dengan adanya program PPK Ormawa ini, mereka diharapkan dapat melahirkan setidaknya 10 wirausaha baru serta satu kelompok usaha bersama (KUB). Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, kerjasama dengan pemerintah desa diadakan untuk mengadakan lomba wirausaha saat memperingati HUT RI. Dari lomba ini, tercatat 14 wirausaha baru yang berhasil teridentifikasi. Hal ini disampaikan oleh Ketua KUB "Semi Lancar", Suliyah, yang mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraannya atas kehadiran tim PPK Ormawa yang memberikan pelatihan sekaligus pendampingan. Suliyah berharap hasil dari pendampingan ini dapat membantu para wirausahawan baru untuk berkembang menjadi unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mandiri. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian keluarga di Desa Sokawera dan membantu mengurangi tingkat kemiskinan. Selain itu, pelatihan yang diberikan juga diharapkan mampu memperluas pasar produk olahan singkong hingga ke tingkat regional, nasional, dan internasional. Kepala Desa Sokawera, Handoyo, menyatakan bahwa luas lahan budidaya singkong di desanya mencapai sekitar 3 hektare, dengan produktivitas rata-rata antara 5 hingga 7 ton per hektare. Kehadiran PPK Ormawa di desa tersebut tidak hanya memperkenalkan varian produk baru dari singkong, tetapi juga menciptakan peluang baik untuk inovasi di sektor pertanian. Indah Setiawati, dosen pembimbing PPK Ormawa UKMPR, menambahkan bahwa fokus terhadap pengolahan singkong juga diambil karena sebelumnya timnya telah melakukan pendampingan produk mocaf dalam program Wiradesa. Salah satu inovasi yang dihasilkan adalah penerapan konsep *zero waste*, di mana limbah dari singkong dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik cair dan kompos. Dalam hal ini, pembuatan pupuk organik awalnya direncanakan menggunakan kulit singkong, tetapi karena saat ini sudah dimanfaatkan sebagai pakan ternak, maka pelatihan beralih pada penggunaan ranting dan batang tanaman singkong. Batang singkong yang dicacah selanjutnya akan difermentasi menjadi kompos. I Wayan Budiana, Koordinator Pengembangan Kemahasiwaan dan Alumni Unsoed, menyatakan bahwa universitas mendukung penuh kegiatan PPK Ormawa UKMPR, terutama menjelang penyelenggaraan Abdidaya Ormawa di Universitas Udayana, Bali, pada bulan November 2024. Abdidaya Ormawa merupakan bentuk pengakuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk organisasi kemahasiswaan dalam praktik pemberdayaan masyarakat. Dukungan yang diberikan oleh Unsoed meliputi penyediaan sarana dan prasarana, serta bantuan finansial sebesar 25 persen dari anggaran yang didanai oleh Kemendikbudristek. Selain itu, mahasiswa yang berhasil mendapatkan pendanaan akan mendapatkan penyetaraan hingga 20 satuan kredit semester (SKS), yang bisa menggantikan masa kuliah kerja nyata (KKN) mereka. ANTARA