JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menekankan perlunya penyusunan Prosedur Operasional Standar (SOP) dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) untuk menanggulangi kasus perundungan yang dapat terjadi di kalangan peserta program tersebut. Ketua Umum Pengurus Besar IDI, Mohammad Adib Khumaidi, menjelaskan bahwa perundungan bukan hanya masalah hukum, tetapi juga berkaitan dengan disiplin dan etika. Ia menegaskan pentingnya memiliki SOP dalam pendidikan kedokteran spesialis. "Kita harus membuat SOP dalam sebuah pendidikan kedokteran spesialis," ungkapnya saat konferensi di Antara Heritage Center, Jakarta Pusat. Adib memaparkan bahwa SOP bagi peserta PPDS harus mencakup berbagai aspek penting, termasuk penetapan jam kerja, insentif, serta tata kerja antara peserta senior dan junior. Tanpa adanya SOP yang jelas, akan sulit untuk menentukan tanggung jawab setiap peserta sesuai dengan level semester yang mereka jalani. Adib menekankan, "Kami ingin ada pembagian tugas yang jelas, supaya jika ada pelanggaran terhadap SOP, kami bisa melakukan penindakan." Hingga saat ini, ia menyatakan bahwa SOP resmi yang mengatur PPDS masih belum ada. Pengalamannya menunjukkan bahwa pengaturan tata kelola pendidikan selama ini sering kali dilakukan oleh peserta itu sendiri. Dengan adanya SOP, diharapkan pembagian tugas dan aturan bagi setiap peserta akan lebih terstruktur, yang juga akan mendorong kerja sama tim di antara mereka. Adib menambahkan, "Dalam suasana pendidikan yang profesional, peserta harus saling mendukung." Ia juga mendorong penciptaan Satuan Tugas (Satgas) khusus yang bertugas untuk mengawasi dan memastikan edukasi di PPDS berlangsung dengan baik serta mencegah terjadinya tindakan perundungan. Pembentukan SOP dan satgas ini diharapkan menjadi landasan komitmen dalam menciptakan lingkungan pendidikan dokter spesialis yang tidak hanya aman, tetapi juga bersahabat. "Kita harus berkomitmen untuk menciptakan pendidikan dokter spesialis yang aman, nyaman, dan bersahabat, yang nantinya melahirkan dokter spesialis yang berkualitas," tutup Adib. ANTARA