DENPASAR –
**Borneonews - Denpasar**, Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) edisi ke-21, yang merupakan salah satu festival sastra tahunan paling signifikan di Asia Tenggara, siap untuk digelar kembali pada tanggal 23 hingga 27 Oktober 2024. Festival ini akan menampilkan sebanyak 336 pembicara yang berasal dari berbagai sektor dan negara. Pendiri serta Direktur UWRF, Janet DeNeefe, dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di Denpasar, Bali, menyampaikan tema festival tahun ini, yaitu "Satyam Vada Dharmam Chara: Speak the Truth, Practice Kindness". Tema ini diambil dari epik Mahabharata dan terinspirasi oleh filosofi Hindu Bali, khususnya konsep "Tri Pramana". Filosofi *Tri Pramana* ini menekankan pentingnya menerapkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan melalui tiga kemampuan, yaitu Bayu (kemampuan untuk hidup), Sabda (kemampuan untuk bersuara), dan Idep (kemampuan untuk berpikir). "UWRF sebagai festival sastra ingin mendorong keterlibatan penulis dalam menyebarluaskan nilai-nilai ini melalui karya-karya mereka," ujarnya. Sekitar 181 penulis dari Indonesia akan berkolaborasi dengan 336 pembicara dari 20 negara lainnya. Festival ini akan diisi dengan 266 program yang berlangsung di 70 lokasi berbeda. Panitia menargetkan peserta yang hadir melebihi 10.000 orang. Di antara pembicara asal Indonesia, terdapat figur-figur penting seperti jurnalis Andreas Harsono, penulis Dicky Senda dari Nusa Tenggara Timur, penulis dan aktivis Ayu Utami, sutradara Lola Amaria, serta Soesilo Toer, yang merupakan tokoh masyarakat dan adik dari sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer. Kontribusi untuk isu lingkungan dalam festival ini akan diawali oleh Amitav Ghosh, penulis asal India, yang akan membahas hubungan antara kolonialisme dan perubahan iklim. Selain itu, tokoh-tokoh dari Bali yang peduli terhadap lingkungan akan turut berkontribusi melalui acara sampingan yang dirancang untuk melibatkan lebih banyak orang dalam festival ini. Pemilihan lokasi festival utama terletak di Taman Baca yang berada di Jalan Raya Sanggingan dan Indus Restoran. Namun, terdapat banyak tempat lain di Ubud yang juga akan digunakan, dan festival ini dirancang untuk mendukung kolaborasi dan memberikan dampak positif bagi seluruh masyarakat Ubud. Festival akan dimulai pada pukul 09.00 WITA dan akan berlanjut hingga sore hari dengan berbagai program utama yang berlangsung di pusat festival. Setelah itu, kegiatan malam hari akan mencakup pemutaran film, pertunjukan musik, monolog, dan berbagai kegiatan sastra lainnya. Tahun ini, peningkatan jumlah pembicara terlihat signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Beberapa pembicara internasional yang menonjol mencakup Amitav Ghosh, pemikir terkemuka dunia dari India; Aube Rey Lescure, penulis multifaset keturunan China-Prancis-Amerika yang menjadi nomine untuk *Women’s Prize for Fiction 2024*; serta Nam Le, penulis Australia asal Vietnam yang terkenal lewat buku *The Boat*. Selain itu, ada juga Bora Chung, nomine *International Booker Prize* 2022, dan Ali Cobby Eckermann, penyair asal Aborigin Yankunytjatjara. Dari pihak Indonesia, Ayu Utami akan memeriahkan festival bersama dengan penulis perjalanan serta jurnalis Agustinus Wibowo dan Fatris MF; Ratih Kumala, penulis novel *Gadis Kretek* yang diadaptasi oleh Netflix; Oka Rusmini, seorang penulis asal Bali yang menerima penghargaan S.E.A Write Award pada tahun 2012; serta Robin Lim, pegiat hak asasi manusia dan penulis. Seno Gumira Ajidarma, yang dikenal dengan kredo "Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus berbicara", juga akan menjadi bagian dari festival. Nama-nama terkenal lainnya yang ikut serta adalah Goenawan Mohamad, Dee Lestari, Omar Musa, Agung Mango, Dian Kristiani, Abdi Karya Ibe Palogai, Sri Paduka Mankonagara, dan Putik Padi. "Kami mempersembahkan deretan penulis, baik yang baru maupun yang sudah terkenal, dari Indonesia dan seluruh belahan dunia dalam berbagai program yang menarik, yang diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi para pembaca yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi," ungkap Janet DeNeefe. ANTARA