JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, menyatakan komitmennya terhadap hilirisasi kelapa sawit yang bertujuan untuk mengembangkan industri penerbangan dan pelayaran yang lebih ramah lingkungan. Menurutnya, Indonesia memiliki target ambisius untuk mencapai penggunaan *bioavtur* secara penuh pada tahun 2060. Oleh sebab itu, ia mengapresiasi inisiatif hilirisasi yang telah dimulai dan mendorong pemikiran untuk melanjutkan langkah tersebut. Pernyataan ini diungkapkan Menhub saat menjadi pembicara utama dalam acara peluncuran buku yang berjudul "Hilirisasi Sawit, Cegah Middle Income Trap," karya Saleh Husin yang berlangsung di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Menhub juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan International Civil Aviation Organization (*ICAO*) untuk pengembangan *bioavtur*. Ia menjelaskan bahwa sektor transportasi, terutama industri penerbangan, menghadapi berbagai tantangan yang harus diatasi. Namun, sejalan dengan usaha memaksimalkan penggunaan *bioavtur* di sektor penerbangan, industri pelayaran Indonesia sudah mulai menerapkan biodiesel sebesar 30 persen atau B30. Menhub optimis bahwa penggunaan B100 akan dapat diterapkan di masa mendatang, sehingga biaya bahan bakar bisa lebih terjangkau. Langkah ini diharapkan akan mendukung Program Tol Laut agar dapat beroperasi dengan lebih efektif dan efisien. Sejak diluncurkan, Program Tol Laut telah mengalami perkembangan yang signifikan, dari awal yang hanya memiliki kurang dari lima trayek menjadi 39 trayek saat ini. Perluasan trayek ini ditujukan untuk meningkatkan konektivitas, terutama di daerah timur Indonesia. Biaya operasional kapal sebagian besar disebabkan oleh penggunaan solar, yang mencapai lebih dari 59 persen dari total biaya tersebut. Dengan begitu, penggunaan bahan bakar alternatif yang lebih murah, seperti B100, diharapkan dapat menekan biaya operasional secara signifikan. Menhub menegaskan, "Jadi ide Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla kami tindak lanjuti. Saudara kita di Timur sangat membutuhkan Tol Laut. Jika biaya bahan bakar lebih murah, tentu akan lebih baik, mengingat lebih dari 59 persen biaya operasional kapal berasal dari solar." ANTARA