**Borneonews - Jakarta**, Institute for Essential Services Reform (IESR) memberikan penilaian bahwa percepatan transisi energi yang melibatkan pengembangan sumber energi terbarukan, berpotensi mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang ditargetkan oleh pemerintahan presiden terpilih Prabowo Subianto.
Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, menjelaskan dalam sebuah webinar bahwa ada tiga jalur penting dalam pengembangan energi terbarukan yang dapat dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Jalur pertama adalah diversifikasi industri energi bersih. Pengembangan sektor energi terbarukan diharapkan bisa memberikan dorongan signifikan untuk sektor industri dengan menciptakan peluang baru dalam rantai pasok dan manufaktur. Contohnya adalah produksi sel dan modul surya, turbin angin, serta komponen untuk kendaraan listrik.
Jalur kedua yang disebutkan adalah pengembangan infrastruktur hijau. Investasi dalam infrastruktur seperti pembangunan jalur transmisi, penerapan *smart grid*, dan sistem penyimpanan energi bertujuan untuk menarik lebih banyak dana dari investor.
Selanjutnya, jalur ketiga mencakup pembangunan ekowisata yang mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan. Dalam konteks ini, Fabby mendorong pemerintah untuk menjalankan tiga reformasi kebijakan yang mampu membuka peluang investasi di sektor energi terbarukan.
Reformasi pertama adalah penghapusan subsidi energi fosil dan penetapan tarif karbon yang memadai. Dengan menghilangkan intervensi pasar melalui subsidi, energi terbarukan dapat lebih bersaing di pasar. Selain itu, kebijakan harga karbon yang efektif dinilai krusial untuk mendukung transisi ini.
Reformasi kedua terkait dengan pembiayaan infrastruktur. Di sini, penggunaan dana publik untuk menarik investasi menjadi penting. Pengembangan instrumen *blended finance*, serta instrumen pendanaan hijau seperti *green bond*, juga perlu didorong untuk mendukung proyek-proyek energi terbarukan dan efisiensi energi, termasuk pemanfaatan pajak karbon untuk mendanai transisi energi.
Reformasi ketiga melibatkan pembangunan kemitraan serta kerja sama internasional. Indonesia, sebagai salah satu ekonomi terbesar di ASEAN, perlu menempatkan diri sebagai pemimpin dalam inisiatif energi bersih baik di tingkat global maupun regional. Kerja sama dengan negara-negara pemimpin di bidang teknologi energi bersih sangat penting untuk mendorong transfer teknologi dan pendanaan proyek-proyek terkait energi bersih.
Lebih lanjut, Koordinator Riset Sosial Kebijakan dan Ekonomi IESR, Martha Jesica, menekankan pentingnya transisi energi yang adil dan inklusif. Ia menyatakan bahwa upaya ini harus mampu mempersempit kesenjangan pendapatan, di mana manfaat dari transisi energi seharusnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan fiskal yang mendukung ekonomi rendah karbon harus disusun agar bisa memberikan manfaat kepada perekonomian daerah, termasuk alokasi belanja pemerintah untuk program pengembangan badan usaha di sektor energi terbarukan dan ekonomi hijau.
Transisi energi yang berkeadilan juga diharapkan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam program-program pembangunan ekonomi dan energi yang berpotensi mempengaruhi hidup mereka.
Di sisi lain, Ali Mundakir, anggota Dewan Pakar Prabowo-Gibran, menyatakan bahwa pemanfaatan energi terbarukan memiliki potensi besar untuk mencapai kemandirian energi di Indonesia. Dengan mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan, negara dapat melakukan pengurangan yang signifikan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dan *Liquified Petroleum Gas* (LPG).
Meskipun saat ini pemanfaatan energi terbarukan masih berada pada tahap yang relatif kecil, terdapat peluang besar untuk eksplorasi dan pengembangan lebih lanjut. Menurut Ali, langkah awal yang krusial adalah menciptakan iklim investasi yang lebih baik di sektor ini untuk menarik lebih banyak pemangku kepentingan.
Pengembangan *smart grid* juga tampak menjadi fokus utama dalam lima tahun ke depan, guna meningkatkan efisiensi produksi energi dari sumber matahari dan angin. Selain itu, untuk meningkatkan pasokan listrik yang bersumber dari energi terbarukan, kebutuhan terhadap metode yang lebih bersih dan bebas emisi karbon dioksida menjadi sangat diperlukan, serta harus dapat dikembangkan pada skala besar dengan biaya yang terjangkau.
ANTARA
Percepatan Transisi Energi Dukung Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Tokoh Lintas Agama Ingatkan Pentingnya Huma Betang dan Kerukunan di Kalteng
Kabinda Kalteng Ajak Tokoh Agama Edukasi Masyarakat Bijak Bermedia Sosial
Hari Santri Nasional Momentum Perkuat Komitmen Cetak Generasi Emas
Polda Kalteng Lakukan Penanaman Pohon di Bekas Lokasi Karhutla, Wujudkan Green Policing
Kebakaran di Sungai Andai Banjarmasin, Dua Rumah Terdampak
BPBD Kapuas Sampaikan Duka atas Meninggalnya Warga yang Kerap Bantu Padamkan Karhutla
Komentar (0)
Memuat komentar…







