BANDA ACEH –
**Borneonews - Banda Aceh**, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Muhammad Husni, mengungkapkan bahwa kearifan lokal yang dikenal dengan nama *Smong* yang berasal dari Kepulauan Simeulue, Aceh, dapat dijadikan sebagai acuan dalam praktik mitigasi bencana, khususnya yang berkaitan dengan gempa bumi dan tsunami. Dalam kesempatan sambutannya pada penutupan kegiatan peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2024 di Balai Meuseuraya, Banda Aceh, pada Kamis, ia menekankan bahwa konsep *Smong* di Simeulue merupakan bentuk mitigasi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat. Muhammad Husni menjelaskan, masyarakat Simeulue telah memiliki pemahaman yang baik mengenai kondisi alam di sekitar mereka. Ketika air laut surut, mereka sudah terlatih untuk menyadari bahwa ombak besar akan segera menyusul. "Hal ini sudah diturunkan dari generasi ke generasi di sana," ungkapnya. Pada bencana tsunami yang melanda Aceh dua dekade lalu, masyarakat Simeulue menunjukkan respon yang mengesankan. Dalam peristiwa tersebut, hanya tujuh orang yang menjadi korban jiwa, berkat pemahaman mereka mengenai tanda-tanda alam yang mengindikasikan bahaya. Dengan cepat, mereka mengambil langkah untuk melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi, yaitu bukit-bukit di daerah tersebut. Husni menyatakan harapannya agar nilai-nilai dan pengetahuan yang telah terbangun di Simeulue dapat disebarluaskan kepada masyarakat di seluruh Indonesia. Ia percaya bahwa hal ini bisa menjadi langkah penting dalam merumuskan strategi mitigasi bencana di daerah lain. “Semoga nilai-nilai ini dapat diimplementasikan di berbagai wilayah di tanah air, dan Gubernur Aceh harus memposisikan diri sebagai teladan dalam sosialisasi *Smong* dan strategi mitigasi bencana,” tutur Muhammad Husni. Sebagai latar belakang, *Smong* merupakan bentuk kearifan lokal yang lahir dari berbagai pengalaman pahit masyarakat Simeulue terhadap bencana gempa bumi dan tsunami yang pernah melanda. Sejarahnya bermula dari peristiwa buruk yang terjadi pada tahun 1907, ketika tsunami yang disebabkan oleh gempa berkekuatan 7,6 menghancurkan pesisir pulau Simeulue, termasuk Kecamatan Teupah Barat. Tragedi tersebut memengaruhi ribuan orang, merenggut banyak nyawa dan menghancurkan rumah serta tempat ibadah. Kenangan akan bencana tersebut masih teringat jelas dalam ingatan kolektif masyarakat, tersimpan dalam sebuah kuburan yang terletak di pelataran masjid Desa Salur, Kecamatan Teupah Barat. Sejak saat itu, istilah *Smong* menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Simeulue. Hingga saat ini, kisah dan pelajaran terkait *Smong* terus diceritakan secara lisan dari generasi ke generasi melalui tradisi nafi-nafi. Nafi, yang merupakan budaya lokal di Simeulue, menjadi sarana untuk menyampaikan nasihat dan petuah hidup, termasuk di dalamnya pesan tentang *Smong*. Para tetua dan tokoh adat berperan penting dalam mengajarkan nafi-nafi ini kepada generasi muda, dan tradisi ini terus bertahan hingga sekarang. ANTARA