JAKARTA –
**Borneonews - London**, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengumumkan bahwa mereka akan memulai latihan tahunan kesiapsiagaan nuklir yang dikenal sebagai *Steadfast Noon* pada minggu depan. Pengumuman tersebut disampaikan pada hari Kamis. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menekankan betapa krusialnya kesiapan militer dalam kondisi global yang semakin tidak menentu. Dalam pernyataannya, ia mengatakan, “Di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian, sangat penting bagi kami untuk melakukan pengujian terhadap pertahanan serta memperkuat kemampuan. Hal ini bertujuan agar para musuh menyadari bahwa NATO selalu siap dan mampu memberikan respons terhadap setiap ancaman.” Latihan ini akan dilaksanakan di tengah meningkatnya retorika nuklir dari Presiden Rusia, Vladimir Putin. Putin telah mengeluarkan beberapa peringatan keras sejak dimulainya konflik di Ukraina pada tahun 2022. Dijadwalkan berlangsung pada hari Senin, latihan ini akan melibatkan sekitar 60 pesawat, termasuk jet tempur F-35A dan pembom B-52, serta partisipasi dari 13 negara anggota NATO. Sekitar 2.000 personel militer dijadwalkan akan terlibat dalam misi simulasi yang melibatkan hulu ledak nuklir milik Amerika Serikat. Namun, penting untuk dicatat bahwa dalam latihan ini tidak akan ada senjata aktif yang digunakan, sesuai dengan keterangan dari pejabat NATO. Latihan yang direncanakan berlangsung selama dua minggu ini akan dilakukan di "wilayah Laut Utara" dengan Belgia dan Belanda sebagai penyelenggara utama. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari strategi pertahanan NATO di tengah tantangan keamanan yang terus berkembang. ANTARA