**Borneonews - Jakarta**, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengajak para petani untuk menerapkan praktik tumpangsari di lahan perkebunan sawit dengan menanam padi *gogo*. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendiversifikasi hasil pertanian secara berkelanjutan.
Menurut Sudaryono, fokus utama dari inisiatif ini adalah untuk memperkuat ketahanan pangan di Indonesia, mengingat padi dan sawit merupakan dua komoditas penting yang mendukung kebutuhan pangan nasional. Ia menjelaskan bahwa melakukan tumpangsari sawit dengan padi *gogo* akan sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi padi di seluruh negara.
Kementerian Pertanian telah menargetkan untuk menanami 500 ribu hektar lahan sawit dan kelapa di seluruh Indonesia dengan padi *gogo*. Ini merupakan implementasi dari program yang dikenal sebagai Kesatria, yaitu kelapa sawit yang dikombinasikan dengan tanaman pangan.
Lebih lanjut, Sudaryono mengajak Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) untuk berkonsentrasi pada peningkatan produktivitas sawit secara keseluruhan. Ia menekankan bahwa industri sawit memiliki peranan strategis dalam menambah devisa negara dan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Sudaryono, atau yang akrab disapa Mas Dar, menegaskan pentingnya meningkatkan produktivitas kelapa sawit hingga mencapai target 17 ton per hektare. Target ini diharapkan dapat mendekati Malaysia yang saat ini mencatatkan angka produktivitas sebesar 18 ton per hektare.
Pemerintah, kata Sudaryono, berkomitmen untuk menjaga kelapa sawit sebagai salah satu komoditas strategis. Hal ini tidak hanya penting untuk mendukung perekonomian nasional tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan para petani. Saat ini, kelapa sawit Indonesia berhasil menguasai 60 persen pasar dunia.
Dalam kesempatan yang sama, Sudaryono juga menekankan pentingnya hilirisasi, terutama dalam pengembangan biodiesel B50. Upaya ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor biosolar. Ia menjelaskan bahwa dengan pengembangan hilirisasi yang tepat, Indonesia dapat memanfaatkan sawit tidak hanya untuk kebutuhan tradisional tetapi juga untuk menghasilkan biodiesel B50, yang saat ini sedang dalam tahap pemenuhan kebutuhan biosolar domestik.
Sudaryono juga menekankan pencapaian pada ekspor *Crude Palm Oil* (CPO) yang dapat dimanfaatkan untuk hilirisasi, termasuk pengembangan biodiesel B35 dan B50. Dengan harapan, ini akan mengurangi bahkan mungkin menghilangkan ketergantungan pada impor biosolar sepenuhnya.
Inisiatif ini adalah langkah maju penting dalam upaya menciptakan ketahanan pangan yang lebih baik serta meningkatkan kesejahteraan petani melalui pemanfaatan lahan dan sumber daya yang ada secara optimal.
ANTARA
Wakil Menteri Pertanian Dorong Tumpangsari Sawit dan Padi Gogo
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Jet Tempur AS Cegat Pesawat umum Dekat Kediaman Trump di Florida
Peneliti Jepang Temukan Tutup Botol Bawa Ekosistem Laut Filipina
Wembanyama Bawa Spurs Kalahkan Mavericks 122-106
Imam Besar: Serangan Berulang ke Mekkah Bongkar Niat Kriminal Houthi
Kemenpar-BPOLBF Gandeng Agen Wisata Tiongkok Perluas Pasar Labuan Bajo
Mendagri Prancis: Ribuan Orang Ditahan saat Demonstrasi Lanjutan
Komentar (0)
Memuat komentar…







