**Borneonews - Bali**, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengungkapkan bahwa industri asuransi umum di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan yang perlu ditangani dengan pendekatan inovatif dan berkelanjutan. Beberapa tantangan tersebut meliputi lonjakan harga komoditas, peningkatan volatilitas harga bahan pangan dan energi, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang dapat mempengaruhi stabilitas pasar.
Budi menambahkan bahwa terdapat berbagai cara inovatif untuk memperluas penetrasi asuransi di pasar. Salah satunya adalah dengan membangun ekosistem bisnis yang lebih ramah lingkungan, termasuk penerapan prinsip *Environmental, Social, and Governance* (ESG) yang lebih ketat. Ini adalah langkah penting untuk meningkatkan daya saing industri. Selain itu, pengembangan ekosistem industri kelautan dan eksplorasi ekonomi antariksa juga menjadi bagian dari prioritas utama yang harus diperhatikan oleh Indonesia ke depan.
Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diharapkan dapat terus berlanjut dengan stabil. Dorongan dari peningkatan belanja publik, investasi yang tumbuh, dan permintaan konsumen yang tetap stabil akan menjadi faktor penentu dalam mencapai tujuan ini.
Hingga saat ini, industri asuransi di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang positif dari tahun ke tahun. Data terbaru menunjukkan bahwa pada semester pertama tahun 2024, premi dari industri asuransi umum nasional meningkat sebesar 18,4 persen *year on year* (yoy) menjadi Rp57,9 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan dengan Rp42,83 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meskipun demikian, kontribusi industri asuransi umum terhadap perekonomian nasional masih terbilang stagnan. Pertumbuhan agregat penetrasi asuransi komersial, asuransi wajib, dan asuransi sosial masih diperlukan untuk mencapai potensi penuhnya. Selama periode 2020 hingga 2023, penetrasi asuransi secara keseluruhan hanya meningkat sebesar 2,64 persen. Ini masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Misalnya, penetrasi asuransi komersial di Indonesia tercatat hanya 2,7 persen pada tahun 2022, jauh di bawah rata-rata ASEAN yang mencapai 4,7 persen.
Melihat dari kondisi pasar, dengan jumlah penduduk yang besar dan ekonomi yang terus berkembang, Indonesia memiliki dasar yang kuat untuk meningkatkan pertumbuhan sektor asuransi. Namun, meski terdapat potensi yang besar, tingkat penetrasi asuransi umum masih jauh dari optimal jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya serta negara maju. Hal ini tentu memberikan peluang untuk memperluas pasar asuransi di Indonesia.
Oleh karena itu, sangat penting untuk mengembangkan strategi yang tepat guna mempercepat pertumbuhan industri asuransi di tanah air, ujar Budi.
ANTARA
Inovasi Diperlukan untuk Tingkatkan Industri Asuransi Umum Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Komentar (0)
Memuat komentar…







