KASONGAN –

BORNEONEWS, Kasongan - Di tengah keterbatasan fisik yang ia hadapi, Melisa Nyangin, seorang penyandang disabilitas asal Kabupaten Katingan, justru menunjukkan tekad yang luar biasa untuk memberi manfaat bagi sesama. Melisa, yang mengalami kecelakaan lalu lintas sepuluh tahun lalu, kini menjadi sosok inspiratif di balik pendirian Yayasan Sosial Kemanusiaan SDI Solidaritas, sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras, atau golongan.

Dari kecelakaan menjadi titik balik

Pada usia 23 tahun atau 10 tahun yang lalu, Melisa mengalami kecelakaan yang merubah hidupnya. Insiden tersebut mengakibatkan dirinya lumpuh dan harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas. Namun, daripada terpuruk dalam kesedihan, Melisa justru menemukan semangat baru untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat.

"Daripada saya menghabiskan waktu di kamar hanya bisa melihat dinding dan tembok, lebih baik saya melihat keluar. Ternyata, di sekitar kita banyak yang lebih membutuhkan bantuan daripada kondisi saya sendiri," ujar Melisa dengan penuh semangat saat ditemui di kediamannya, Kompleks BTN Bahalab Permai, Katingan Hilir, Kamis, 10 Oktober 2024.

Membangun jejaring kepedulian

Yayasan SDI Solidaritas lahir dari semangat Melisa untuk berbagi. Pada awalnya, ia membentuk sebuah komunitas melalui jejaring sosial untuk menjalin persahabatan dan memperluas jaringan kepedulian. Komunitas yang dimulai dari berbagi simpati kemudian berkembang menjadi yayasan sosial yang resmi pada tahun 2017. Dengan dukungan teman-teman dan relawan, Melisa berhasil mewujudkan visinya: memberikan layanan sosial yang menyentuh kehidupan masyarakat yang kurang beruntung.

"Yayasan ini berkomitmen untuk melaksanakan berbagai program sosial kemanusiaan secara berkesinambungan. Kami berusaha menjembatani kedermawanan dan kerelawanan menjadi sebuah wadah bagi aktivis kemanusiaan dan donatur untuk berperan aktif," jelas Melisa.

Misi yayasan: Solidaritas tanpa batas

Yayasan SDI Solidaritas memiliki misi mulia: memberikan layanan sosial kepada masyarakat tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Organisasi ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan masyarakat miskin dengan cara yang terencana, terkonsep, dan berkelanjutan. Melisa menekankan pentingnya mengelola persoalan kemanusiaan dengan prioritas pada warga yang kurang mampu, sebagai bagian dari kekuatan kekeluargaan.

Selain itu, yayasan ini juga aktif mengampanyekan gerakan peduli sesama. Mereka sering menggelar aksi sosial, seperti penggalangan dana untuk membantu warga yang membutuhkan. "Pada Sabtu dan Minggu lusa, kami akan mengadakan penggalangan dana untuk tiga warga di Hampalit, Kasongan, dan Dahian Tunggal yang sedang sakit atau lumpuh," ujar Melisa.

Menginspirasi melalui aksi

Meski terbatas oleh fisiknya, semangat Melisa dalam memberikan bantuan tak pernah padam. Yayasan ini bukan hanya sebuah organisasi, tetapi juga sebuah komunitas yang saling menguatkan dan menginspirasi banyak orang. Melisa percaya bahwa kepedulian terhadap sesama adalah kunci untuk membangun solidaritas yang kuat di tengah masyarakat.

"Saya ingin lebih berarti, meskipun saya tidak bisa berjalan, saya bisa membuat perbedaan bagi orang lain. Mungkin ini adalah jalan hidup saya untuk terus memberikan manfaat," ungkap Melisa dengan tulus.

Kisah Melisa Nyangin dan yayasannya adalah contoh nyata dari bagaimana semangat kebersamaan dan solidaritas bisa mengatasi segala rintangan, memberikan harapan, dan menciptakan perubahan bagi mereka yang membutuhkan. Sebuah cerita yang mengajarkan bahwa kepedulian tidak mengenal batas fisik, dan bahwa setiap orang, terlepas dari kondisi mereka, memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang lebih baik. (ABDUL GOPUR/J)