**Borneonews - Jakarta**, Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) menegaskan komitmennya untuk mendukung program pembangunan 3 juta rumah setiap tahun yang diusulkan oleh presiden terpilih, Prabowo Subianto. Ketua Umum DPP REI, Joko Suranto, menyambut baik inisiatif ini karena dianggap mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap industri perumahan di Indonesia di masa depan.
Joko menekankan bahwa tidak akan ada perubahan yang berarti jika pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tetap sama. Ia mengungkapkan pentingnya upaya pengentasan kemiskinan melalui penyediaan hunian yang masif, dengan target 3 juta unit rumah untuk masyarakat di daerah pedesaan dan perkotaan sebagai langkah yang sejalan dengan upaya mengatasi *backlog*.
Seperti yang diungkapkan oleh Joko, saat ini Indonesia menghadapi masalah besar terkait *backlog* perumahan, dengan jumlah kekurangan pasokan rumah mencapai 12,7 juta unit. Situasi ini tidak banyak berubah dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, menjadi perhatian serius bagi semua pihak.
Sektor properti di Indonesia telah berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara, mencapai 14 persen. Selain itu, sektor ini menyumbang 9 persen terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), serta berkontribusi antara 35 hingga 55 persen terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Sektor ini juga mampu menyerap tenaga kerja yang berkisar antara 14 hingga 17 juta orang.
Lebih lanjut, sektor properti berperan dalam pengurangan angka kemiskinan sebesar 8 persen dan juga berkontribusi dalam menekan angka *stunting*, sesuai dengan visi presiden terpilih, Prabowo Subianto. Joko menambahkan, sektor ini memiliki keterkaitan dengan hampir 185 industri lain di sektor riil, sehingga menunjang pergerakan perekonomian di tanah air. Dengan potensi menyerap tenaga kerja yang luas, yaitu antara 13 hingga 19 juta orang, industri properti memiliki posisi strategis yang penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Joko juga menekankan bahwa sektor properti akan berfungsi sebagai pengungkit ekonomi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen per tahun, demi mempersiapkan Indonesia menuju cita-cita menjadi negara yang maju di tahun 2045. Ia menyebut konsep *propertinomic* sebagai paradigma baru yang seharusnya diadopsi dalam pembangunan sektor properti.
Di sisi lain, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perumahan dari pemerintahan baru, Hashim S. Djojohadikusumo, menjelaskan bahwa pemerintahan mendatang berniat untuk memberikan perhatian besar terhadap sektor perumahan melalui program pembangunan 3 juta rumah per tahun, termasuk pembentukan kembali Kementerian Perumahan.
Menurut Hashim, keputusan ini diambil berdasarkan pemahaman mendalam tentang urgensi perumahan dalam menurunkan angka *stunting* dan mengatasi kemiskinan. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk menghidupkan kembali Kementerian Perumahan yang akan mengelola program pembangunan sebanyak 3 juta rumah, dengan rincian 2 juta rumah di desa dan 1 juta rumah di kota setiap tahunnya.
Hashim menekankan bahwa mencapai tujuan dan target tersebut adalah sesuatu yang realistis. Ia menyerukan agar bangsa Indonesia bersungguh-sungguh dan berambisi tinggi untuk merealisasikan program pembangunan 3 juta rumah per tahun ini.
ANTARA
REI dukung program 3 juta rumah per tahun untuk atasi backlog
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Bupati Kobar Bermalam di TNTP Pantau Pemadaman Karhutla dan Kebutuhan Relawan
Dana Rp240 Miliar Disalurkan untuk Tangani Karhutla di Kalbar
Indeks Kualitas Udara Palangka Raya Capai 1.506, Masuk Kategori Berbahaya
Penyelundupan 65 Cartridge Diduga Etomidate di Rutan Salemba Digagalkan
NU Kalteng Ingatkan Penyampaian Aspirasi Harus Santun dan Jaga Persatuan
LDII Kalteng Tekankan Gotong Royong untuk Penanganan Karhutla
Komentar (0)
Memuat komentar…







