JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kualitas udara di Jakarta pada pagi hari Jumat terdeteksi berada dalam kondisi yang tidak sehat, terutama bagi kelompok sensitif. Selain dapat berdampak negatif terhadap kesehatan, kondisi ini juga berpotensi merusak tumbuhan dan mengurangi nilai estetika lingkungan. Data terbaru menunjukkan bahwa Jakarta menduduki peringkat kedelapan sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Situs pemantau kualitas udara, *IQ Air*, mencatat pada Kamis pukul 07.53 WIB bahwa indeks kualitas udara di DKI Jakarta mencapai angka 137, yang menunjukkan terjadinya kondisi tidak sehat bagi kelompok sensitif, dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 50 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang memperbolehkan nilai tahunan mencapai 5 mikrogram per meter kubik. Dengan adanya konsentrasi PM2,5 yang demikian tinggi, situs pemantauan kualitas udara merekomendasikan agar warga Jakarta menghindari aktivitas di luar ruangan. Bagi mereka yang harus beraktivitas di luar, penggunaan masker sangat dianjurkan, serta disarankan untuk menutup jendela agar tidak terpapar oleh udara luar yang tercemar. Dalam laporan yang sama, pengamatan terhadap kualitas udara global menunjukkan bahwa Baghdad di Irak menduduki peringkat teratas dengan angka 222, diikuti oleh Hanoi di Vietnam dengan 202, Kinshasa di Kongo dengan 192, Wuhan di China dengan 163, dan Delhi di India juga dengan angka 163. Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta sebelumnya telah meluncurkan platform pemantauan kualitas udara yang terintegrasi, mencakup hasil pantauan dari 31 titik Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang tersebar di seluruh ibu kota. Data yang dikumpulkan dari SPKU ini ditampilkan dalam platform terbaru, yang merupakan penyempurnaan dari sistem yang sudah ada, dan sesuai dengan standar yang berlaku secara nasional. Platform ini juga berfungsi untuk mengintegrasikan data dari berbagai sumber, termasuk SPKU DLH Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta *World Resources Institute* (WRI) Indonesia dan Vital Strategis. Dengan cara ini, informasi mengenai kualitas udara di Jakarta dapat disajikan dengan lebih komprehensif, sehingga masyarakat dapat lebih memahami kondisi lingkungan yang mereka hirup. ANTARA