JAKARTA –
**Borneonews - Hamilton**, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan pernyataan keras terhadap tindakan yang diambil Israel, yang dinilai menargetkan jurnalis di wilayah utara Jalur Gaza. Dalam siaran itu, PBB menekankan keprihatinan yang mendalam terkait tingkat angka jurnalis yang terbunuh sebagai hasil dari konflik yang berkepanjangan ini. Juru Bicara PBB, Farhan Haq, dalam sebuah konferensi pers yang dilaksanakan Kamis, menyampaikan kekecewaannya. Dia menegaskan bahwa tidak seharusnya ada jurnalis yang menjadi korban pembunuhan dalam situasi konflik seperti ini. "Kami melihat dengan sangat prihatin jumlah jurnalis yang terluka dan kehilangan nyawa dalam jumlah yang membanggakan," ungkapnya seraya mengungkapkan rasa duka yang dalam untuk rekan-rekan jurnalis yang mengalami cedera. Ketika ditanya mengenai insiden di mana seorang jurnalis foto dari Al Jazeera menjadi target penembakan oleh militer Israel saat meliput di Gaza utara, Haq kembali menegaskan ketidakpuasan PBB atas pembunuhan jurnalis di seluruh dunia, termasuk insiden tersebut. Sementara itu, koresponden Al Jazeera, Anas Al-Sharif, melaporkan melalui media sosial bahwa tim mereka menjadi sasaran tembakan, yang menyebabkan jurnalis foto Fadi Al-Wahidi terluka akibat peluru di daerah lehernya saat meliput di lokasi. Menurut pernyataan resmi dari Kantor Media Gaza, korban jiwa di kalangan jurnalis sejak dimulainya serangan Israel telah mencapai angka 176 orang. Kecemasan juga melanda terkait situasi di wilayah Tepi Barat yang diduduki serta Yerusalem Timur. Haq merujuk pada laporan dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) yang menyebutkan bahwa sekurang-kurangnya 24 warga Palestina tewas oleh tindakan pasukan Israel selama minggu pertama bulan Oktober. Di antara mereka, terdapat empat anak-anak. Laporan tersebut melanjutkan, selama periode yang sama, sekitar 130 warga Palestina lainnya, termasuk setidaknya 16 anak-anak dan enam paramedis, telah mengalami cedera akibat serangan dari pasukan Israel atau pemukim yang tidak bertanggung jawab. Serangan yang dilakukan oleh Israel ke wilayah Gaza telah berlangsung setelah serangan oleh kelompok Palestina Hamas, meskipun telah ada resolusi dari Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata secara segera. Data kesehatan setempat menunjukkan, lebih dari 42.000 orang telah kehilangan nyawa sejak serangan tersebut dimulai, dengan sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Selain itu, lebih dari 97.700 orang lainnya mengalami luka-luka. Kondisi di Jalur Gaza semakin memburuk, dengan hampir seluruh populasi terpaksa mengungsi akibat serangan dan blokade yang berlangsung, yang menyebabkan krisis besar dalam hal pasokan makanan, air bersih, serta obat-obatan. Israel kini dihadapkan pada tuduhan genosida yang diajukan di Mahkamah Internasional, terkait dengan tindakannya di Gaza yang semakin merusak kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut. ANTARA