JAKARTA –
**Borneonews - Vientiane, Laos**, Wakil Presiden Republik Indonesia, Ma'ruf Amin, menyerukan kepada seluruh negara anggota ASEAN untuk melakukan percepatan dalam transformasi energi yang ramah lingkungan. Seruan ini disampaikan seiring dengan meningkatnya investasi hijau yang signifikan selama satu tahun terakhir. Saat berpartisipasi dalam Forum Khusus ASEAN-Indo Pasifik 2024 (*AIPF*) di Vientiane, Laos, pada hari Jumat, Wapres Ma'ruf Amin menekankan urgensi untuk akselerasi peralihan menuju ekonomi yang berkelanjutan di kawasan ASEAN. Hal ini sangat penting, terutama dengan adanya tantangan yang dihadapi, seperti perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi global. Wapres menyampaikan, untuk mendukung investasi serta sektor keuangan yang berkelanjutan, ASEAN perlu mengintegrasikan inovasi lingkungan dengan transformasi digital. Penekanan ini adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan transisi energi melalui pemanfaatan teknologi bersih dan sumber energi terbarukan. Diungkapkan juga oleh Wapres bahwa dalam satu tahun terakhir, investasi pada sektor-sektor yang mendukung keberlanjutan lingkungan di kawasan telah mengalami kenaikan yang signifikan. Data menunjukkan bahwa investasi hijau di ASEAN mencapai angka 6,3 miliar dolar AS, dengan suatu peningkatan sebesar 20 persen pada tahun 2023. Oleh karena itu, Wapres mendesak agar investasi hijau semakin ditingkatkan guna mencapai sasaran transisi energi di kawasan pada tahun 2030. Lebih lanjut, dalam pernyataannya, Wapres menggarisbawahi bahwa kawasan Indo-Pasifik merupakan wilayah strategis bagi perekonomian global, termasuk negara-negara besar di dalamnya, seperti negara-negara yang tergabung dalam ASEAN, yang selama ini menunjukan perkembangan ekonomi yang pesat. Kawasan ini berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (*PDB*) dunia dan menjadi pusat perdagangan yang signifikan, mencakup hampir setengah dari total perdagangan internasional. Dalam konteks ini, Wapres menekankan pentingnya peran sentral ASEAN dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan di kawasan serta di dunia. ASEAN terbukti mampu beradaptasi dan berresiliensi di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi. Pada tahun 2023, meskipun terjadi penurunan dalam perdagangan global akibat dari disrupsi yang bersifat geopolitik, perdagangan intra-ASEAN tercatat mencapai 3,5 triliun dolar AS, suatu angka yang melampaui kondisi sebelum pandemi. Dari perspektif resiliensi dalam ekonomi, Wapres menggarisbawahi bahwa ASEAN terus mendapat kepercayaan dari para investor di berbagai bidang yang menjadikan kawasan ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan yang dinamis. "Investasi ke ASEAN mencapai 229 miliar dolar AS dan terus mencatatkan peningkatan meskipun investasi global mengalami penurunan. Terdapat kenaikan yang signifikan di sektor keuangan dan teknologi, yang semakin memperkokoh posisi ASEAN sebagai pusat pertumbuhan di kawasan dan dunia," ungkapnya. Wapres juga mendorong pentingnya penguatan sinergi antara pemerintah dan sektor swasta, yang dianggap sangat krusial untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu, ia memberikan apresiasi terhadap inisiatif dunia bisnis dalam meluncurkan jaringan bisnis ASEAN-Indo Pasifik (*AIPBN*), yang diharapkan dapat menjadi langkah konkret dalam mewujudkan tujuan tersebut. Menurutnya, keberadaan *AIPBN* akan membantu menjadikan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan di tengah tantangan global yang kian kompleks. ANTARA