JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ketua Umum Forum Warga Kota (Fakta) Indonesia, Ari Subagio, menekankan bahwa adanya regulasi terkait cukai pada *Minuman Berpemanis Dalam Kemasan* (MBDK) sangat penting. Tujuannya adalah untuk melindungi masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak, dari risiko yang timbul akibat konsumsi berlebihan yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Dalam pernyataannya di Jakarta, Ari menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mendukung penerapan cukai MBDK. Menurutnya, langkah ini harus segera dilaksanakan agar dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan terkait aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM SPSI). Aksi tersebut berlangsung di depan kantor Kementerian Kesehatan pada tanggal 10 Oktober, di mana mereka mengekspresikan penolakan terhadap ketentuan mengenai MBDK dalam Pasal 194 dan 195 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2024, terkait pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Ari dengan tegas mengungkapkan dukungannya terhadap regulasi yang ada, mencatat bahwa upaya tersebut sejalan dengan mandat negara untuk melindungi kesehatan warga. Dia menyebutkan bahwa MBDK merupakan salah satu penyebab utama permasalahan kesehatan yang serius saat ini. Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), per Januari 2023, kasus diabetes pada anak tercatat mencapai 1.645 jiwa. Selain itu, banyak anak muda dan remaja yang mengalami masalah kesehatan serius seperti diabetes, obesitas, dan gagal ginjal akibat tingginya tingkat konsumsi MBDK yang berlebihan. Ari menegaskan bahwa untuk mengendalikan masalah yang ditimbulkan oleh konsumsi produk MBDK yang berlebihan, perlu dilakukan upaya pengendalian, salah satunya melalui penerapan cukai. Menurut *Obesity Evidence Hub 2023*, lebih dari 50 negara di dunia saat ini telah menerapkan sistem cukai untuk MBDK. Data dari negara-negara seperti Meksiko, Inggris, dan Afrika Selatan menunjukkan bahwa penerapan cukai ini efektif dalam mengurangi konsumsi gula. Sebagai contoh, diprediksi bahwa selama periode 10 tahun, penerapan cukai MBDK di Meksiko dapat mencegah hingga 239.900 kasus obesitas. Dari angka tersebut, sekitar 39 persen merupakan pencegahan obesitas yang terjadi pada anak-anak. Ari menambahkan, dukungan pemerintah dalam menerapkan cukai MBDK di Indonesia adalah langkah penting dan merupakan bentuk kehadiran negara dalam menjaga hak hidup sehat bagi seluruh warga, terutama anak-anak dan generasi muda, yang merupakan masa depan bangsa Indonesia. ANTARA