JAKARTA –
**Borneonews - Penajam Paser Utara**, Festival Harmoni Budaya Nusantara 2024 (FHBN) telah sukses dilaksanakan pada 5-7 September 2024 di Alun-Alun Kantor Bupati Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Festival ini tampak serupa dengan festival budaya lainnya, namun memiliki keunikan yang membedakannya. Unofficially, pelaksanaan FHBN didasari oleh hasil kajian sosial dan budaya strategis terhadap masyarakat lokal yang dilakukan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada tahun 2022. Hasil kajian ini bertujuan untuk menilai persepsi masyarakat lokal tentang Ibu Kota Nusantara (IKN) khususnya di daerah penyangga, seperti Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara. Proses ini sangat penting untuk memastikan terselenggaranya akulturasi budaya yang baik saat pergerakan Aparatur Sipil Negara (ASN) ke IKN. Kajian tersebut juga melibatkan pertimbangan atas kondisi kesejahteraan masyarakat setempat yang masih tertinggal dibandingkan dengan daerah tetangga seperti Balikpapan dan Samarinda. Temuan dari kajian tersebut menunjukkan perlunya pendekatan sosial-budaya yang berkelanjutan terhadap masyarakat di zona penyangga IKN, termasuk penguatan kapasitas sumber daya manusia. Pendekatan ini harus memperhatikan perbedaan karakteristik sosial, ekonomi, dan budaya antara masyarakat lokal dengan imigran, baik dari kalangan pekerja pembangunan hingga ASN. Diperlukan langkah-langkah strategis untuk mencegah konflik sosial yang mungkin muncul akibat sengketa kepemilikan tanah, hilangnya ekosistem, identitas masyarakat, dan kerusakan lingkungan. Kasus sengketa lahan yang dialami masyarakat Pamaluan di Penajam Paser Utara menjadi salah satu contoh tantangan yang harus diwaspadai. Salah satu rekomendasi dari hasil studi ini adalah penyelenggaraan festival budaya di wilayah IKN dan zona penyangganya. Festival budaya diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap keberagaman budaya, membangun ekosistem kultural, serta memperkuat sinergi antara kearifan lokal dan inovasi yang dapat menyatukan masyarakat. Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya tetapi juga berfungsi sebagai pencegah terjadinya konflik sosial di IKN. Berbagai penelitian menunjukkan peran festival sebagai ruang untuk mengekspresikan budaya. Misalnya, studi Wei Gu et al (2020) menunjukkan bahwa Festival Perahu Naga di Qianxinan, Guizhou Barat Daya, Tiongkok, berfungsi tidak hanya sebagai pertunjukan budaya, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi dan pelestarian pengetahuan tradisional. Di sisi lain, penelitian Csurgo dan Smith (2021) menyoroti peran festival budaya dalam mendorong ekspresi budaya serta pengetahuan tradisional komunitas pedesaan di Hongaria melalui berbagai bentuk seni seperti tari rakyat dan seni mural. FHBN dimulai pada tahun 2023 dengan rangkaian festival budaya di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur, dengan puncaknya berlangsung pada 3 November 2023 di Alun-Alun Desa Bukit Raya, Kecamatan Sepaku, North Penajam Paser, yang dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia. Festival ini menghasilkan dua nota kesepakatan: Piagam Dukungan dari para sultan, komunitas lokal, dan tokoh adat demi keberlanjutan pengembangan IKN serta Berita Acara Dukungan bagi keberlanjutan pelaksanaan FHBN dari seluruh Kepala Daerah (Gubernur/Bupati/Wali Kota) di Kalimantan Timur. Presiden Indonesia memberikan apresiasi terhadap FHBN 2023 sebagai festival budaya pertama di IKN dan menekankan pentingnya pendekatan sosial-budaya dalam pengembangan IKN. Keunikan kedua dari FHBN 2024 adalah pelaksanaannya yang menggunakan anggaran terbatas tetapi berhasil membangun kerja sama antara kementerian, lembaga, BUMN, serta pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara selaku tuan rumah, serta Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Kalimantan Timur dan provinsi lainnya seperti Kalimantan Tengah, Kepulauan Riau, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat. Aspek ketiga yang tak kalah menarik adalah partisipasi seluruh pemangku kepentingan termasuk masyarakat lokal dalam festival ini. Keterlibatan berbagai pihak sangat penting untuk membangun rasa memiliki terhadap FHBN sebagai ruang bagi ekspresi budaya. Sejumlah contoh menarik di FHBN 2024 sebagai program afirmasi bagi masyarakat lokal meliputi pelatihan dan kompetisi film pendek yang melibatkan pemuda, serta program panggung musik bagi para musisi tradisional Kalimantan Timur. Antusiasme publik terhadap FHBN 2024 sangat luar biasa, tercermin dari partisipasi aktif masyarakat sejak pembukaan yang diawali dengan parade budaya. Para peserta mengenakan pakaian adat dari daerah asalnya, mencerminkan penghormatan terhadap keberagaman dan sejalan dengan tema FHBN 2024, "Membangun Persatuan dalam Keberagaman." Partisipasi seniman dari Kalimantan Timur serta berbagai daerah lainnya, seperti Kepulauan Riau dengan seni pantun, Kalimantan Tengah melalui seni tari, Lampung dengan musik gambus, serta Nusa Tenggara Barat dalam seni lisan, ditambah pertunjukan Reog Ponorogo oleh Sanggar Singi Koyo Nusontoro dari komunitas transmigran di Penajam Paser Utara, adalah ungkapan nyata penghormatan terhadap harmoni ekspresi budaya. Di sela-sela acara FHBN, juga dilaksanakan peresmian Sekolah Laboratorium Pancasila, sebuah sekolah dasar di Penajam Paser Utara yang mendorong pengamalan nilai-nilai Pancasila melalui peningkatan kreativitas dalam bidang seni, olahraga, dan pengelolaan bank sampah. Selain itu, dalam FHBN 2024 juga diadakan kompetisi permainan tradisional yang bertujuan tidak hanya untuk memperkenalkan kembali permainan seperti gasing, gobak sodor, dan sumpit kepada generasi muda, tetapi juga untuk menguatkan nilai-nilai positif seperti sportifitas, kepercayaan diri, dan kepribadian yang kokoh. Pembangunan nasional, termasuk di IKN, harus berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap keberagaman ekspresi dan nilai-nilai yang dimulai dari tingkat lokal. Ini sejalan dengan penerapan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Penguatan Kebudayaan serta komitmen Konvensi UNESCO untuk Perlindungan dan Peningkatan Keberagaman Ekspresi Budaya pada tahun 2005. Aspek terpenting adalah menjaga keberlanjutan pelaksanaan FHBN di masa depan sebagai ruang afirmasi dan ekspresi budaya lokal. ANTARA