**Borneonews - Sleman,** Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melaporkan bahwa produksi padi selama periode Januari hingga September 2024 mencapai 178.899 ton. Volume hasil panen ini diperoleh dari penanaman di lahan seluas 29.749 hektare.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3 Kabupaten Sleman, Suparmono, menjelaskan bahwa dari total luas panen, padi sawah mengambil kontribusi terbesar dengan area seluas 29.279 hektare, sedangkan padi ladang meliputi 470 hektare. Menurutnya, produksi padi yang mencapai 178.899 ton ini tersebar di 17 kapanewon, dengan kawasan yang menjadi pusat produksi terletak di Sayegen, Moyudan, Minggir, dan Godean.
Suparmono menambahkan bahwa budi daya padi di Sleman dilakukan baik pada lahan sawah yang bergantung pada irigasi dan hujan, maupun di lahan kering atau ladang. Untuk padi ladang, irigasi tidak tersedia, dan hal ini mengharuskan para petani mengandalkan curah hujan yang ada, terutama di daerah Prambanan.
Ia juga menyatakan bahwa upaya untuk meningkatkan produksi padi serta indeks pertanian di daerah tersebut terus dilakukan, salah satunya melalui pengembangan sistem irigasi pipanisasi. Dengan cara ini, diharapkan pemenuhan kebutuhan air bagi tanaman padi bisa lebih optimal.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM, peneliti Wahyudi Kumorotomo mengungkapkan bahwa wilayah Moyudan masih terdapat banyak lahan yang tidak dimanfaatkan untuk bertani, yang sering kali dibiarkan kosong. Hal ini sering disebabkan oleh mindset para petani yang menganggap padi sebagai satu-satunya tanaman pangan. Di tengah permasalahan hama tikus yang menyerang tanaman padi, para peneliti mencoba menawarkan alternatif dengan menanam talas.
Pilihannya jatuh pada talas karena tanaman ini memiliki cara perawatan yang lebih sederhana serta pertumbuhan yang sesuai dengan ketersediaan air irigasi di Moyudan. Wahyudi menyatakan pentingnya meyakinkan petani bahwa talas dapat memberi hasil yang sama baiknya dengan padi apabila dikelola dengan benar.
Meskipun masa tanam talas lebih lama, yakni sekitar tujuh bulan, dibandingkan dengan padi yang hanya memerlukan waktu tiga bulan untuk panen, Wahyudi berpendapat bahwa dalam jangka waktu enam bulan, hasil talas cenderung lebih menguntungkan daripada membiarkan lahan kosong.
Ia juga menyoroti tingginya permintaan pasar untuk talas, yang mendorong tim UGM untuk memberikan pendampingan kepada petani dalam menjual hasil panen tanaman tersebut. Dengan terbukanya peluang pasar yang cukup besar, Wahyudi yakin bahwa usaha ini akan menguntungkan bagi para petani di wilayah tersebut.
ANTARA
Produksi Padi Sleman Capai 178.899 Ton, Petani Didorong Tanam Talas
Bagikan:

YOGYAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kebakaran Terjadi di Masjid Al-Muhajirin Cempaga Kotim
Ganda Campuran China Li/Huang Juarai Indonesia Masters 2026
BPN Berkontribusi Tingkatkan Nilai Ekonomi hingga Rp1.834 Triliun
Kebakaran di Jalan Pahlawan Marabahan, Api Membesar Dekat Sekolah
Pohon Tumbang dan Bangunan Rusak Diterjang Angin Kencang di Banjarbaru
Hujan Lebat Guyur Banjarbaru dan Martapura
Komentar (0)
Memuat komentar…







