JAKARTA –
**Borneonews - Kairo**, Mesir, Eritrea, dan Somalia telah mencapai kesepakatan untuk meningkatkan dan memperkuat kerja sama dalam upaya memberantas terorisme. Tujuan utama dari kolaborasi ini adalah memberikan dukungan kepada angkatan bersenjata Somalia dalam menghadapi tantangan keamanan, serta melindungi perbatasan darat dan laut negara tersebut. Pernyataan ini disampaikan melalui sebuah siaran resmi pada Kamis, 10 Oktober. Dalam pernyataan bersama tersebut, para pemimpin ketiga negara sepakat untuk memperdalam kerja sama dan koordinasi guna meningkatkan kapasitas lembaga negara Somalia. Hal ini diharapkan dapat membantu Somalia dalam menghadapi berbagai tantangan baik dari dalam maupun luar negeri, serta memberdayakan kekuatan militer negara tersebut untuk melawan segala bentuk terorisme. Selain itu, upaya ini juga termasuk menjaga keamanan perbatasan. Para pemimpin Mesir, Eritrea, dan Somalia juga sepakat untuk membentuk sebuah komite tripartit di tingkat menteri luar negeri, yang akan bertugas mengawasi dan mendorong kolaborasi strategis di semua bidang yang relevan untuk ketiga negara. Kunjungan Presiden Mesir Abdel Fattah Sisi ke Eritrea pada Kamis lalu dilakukan atas undangan negara tersebut. Pertemuan ini bertujuan untuk mendiskusikan berbagai isu terkait stabilitas dan keamanan di kawasan Tanduk Afrika serta di sepanjang Laut Merah. Dalam kesempatan itu, Sisi berinteraksi dengan dua rekannya, Presiden Eritrea Isaias Afwerki dan Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud. Sebelumnya, pada bulan Agustus, Mesir dan Somalia telah menandatangani perjanjian kerja sama di bidang militer. Dalam konteks ini, Mesir juga menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Somalia. Sejak tahun 1991, Somalia mengalami perpecahan sebagai negara yang bersatu akibat jatuhnya rezim otoriter Mohamed Siad Barre. Saat ini, masyarakat internasional mengakui pemerintah federal yang berpusat di Mogadishu sebagai satu-satunya otoritas sah di Somalia. Namun, beberapa wilayah, seperti Somaliland dan Puntland di bagian utara dan timur, melanjutkan klaim kemandirian meskipun tidak diakui secara internasional. Ketegangan di kawasan Tanduk Afrika juga meningkat belakangan ini seiring memburuknya hubungan antara Ethiopia dan Somalia. Hal ini menyusul penandatanganan nota kesepahaman antara Ethiopia dan Somaliland, yang memberi Ethiopia akses ke Laut Merah melalui pelabuhan di wilayah tersebut. ANTARA