JAKARTA –
**Borneonews - Fakfak, Papua Barat**, masyarakat adat di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, berkomitmen untuk melestarikan keanekaragaman hayati khususnya burung yang mendiami wilayah mereka. Upaya ini diwujudkan dalam bentuk dokumentasi melalui penerbitan buku yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta komunitas pemandu wisata yang dikenal sebagai Fakfak Birding. Dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Jakarta, tokoh budaya Fakfak yang juga anggota suku Mbaham Matta, Freddy Warpopor, menjelaskan bahwa buku berjudul "Burung-burung dalam Tinjauan Mbaham Matta, Fakfak" lahir dari keprihatinan yang mendalam. Ia khawatir generasi muda saat ini tidak lagi mengenal berbagai jenis burung yang menjadi bagian integral dari budaya lokal, termasuk yang sering disebut dalam lirik lagu-lagu tradisional yang dinyanyikan saat upacara adat. Freddy mengungkapkan, "Keprihatinan ini muncul karena saya merasa bahwa banyak anak-anak, termasuk diri saya sendiri, tidak tahu jenis burung yang dinyanyikan dalam lagu-lagu tersebut. Dengan adanya dokumentasi ini, khususnya dalam bentuk buku, kita dapat menyanyikan lagu-lagu itu dengan pengetahuan yang lebih baik tentang burung yang dimaksud." Buku tersebut diterbitkan hasil kolaborasi antara Konservasi Indonesia (KI) dan kelompok Fakfak Birding, yang telah melakukan pengamatan terhadap berbagai jenis burung di kawasan Hutan Cagar Alam Fakfak sejak tahun 2020 hingga 2024. Fakfak Birding menemukan berbagai jenis burung, di antaranya tiga spesies Cenderawasih endemik Papua: Cenderawasih Kuning Kecil (*Paradisaea minor*), Cenderawasih Toowa Cemerlang (*Ptiloris magnificus*), dan Cenderawasih Belah Rotan (*Cicinnurus magnificus*). Lebih lanjut, Freddy menuturkan bahwa burung memiliki keterkaitan yang erat dengan legenda dan mitos yang masih diyakini oleh komunitas adat di Fakfak. Salah satu contohnya adalah kepercayaan yang dianut oleh suku Mbaham Matta yang tinggal di Semenanjung Bomberai. Mereka meyakini bahwa kemunculan burung Kasuari Gelambir Ganda (*Casuarius casuarius*) di hutan bukan hanya sekedar fenomena alam, melainkan juga sebagai petunjuk arah, serta dapat mengarahkan seseorang ke jalur yang salah jika merasakan niat buruk dari individu tersebut. Selain itu, burung Bubut Pini (*Centropus menbeki*) juga memiliki peranan penting; suaranya yang merdu di pagi hari dijadikan tanda oleh penduduk untuk melubangi alat musik tradisional Fakfak, yaitu tifa tumour, agar suara yang dihasilkan terdengar lebih bagus dan nyaring. Dalam kesempatan yang sama, Meizani Irmadhiany selaku Senior Vice President dan Executive Chair Konservasi Indonesia menyampaikan bahwa penerbitan buku dan dokumentasi yang dilakukan merupakan langkah penting dalam usaha menjaga ekosistem tempat burung-burung tersebut hidup, serta memastikan bahwa pengetahuan mengenai keanekaragaman hayati ini diteruskan kepada generasi mendatang. "Iklim ekosistem yang ada perlu dilindungi karena memiliki keterkaitan langsung dengan fungsi kehidupan kita, tidak hanya bagi masyarakat lokal di Fakfak, tetapi juga bagi masyarakat global secara keseluruhan," jelasnya. Ia menegaskan bahwa langkah menjaga ekosistem adalah salah satu strategi penting untuk mengurangi dampak pemanasan global yang kini tengah terjadi. ANTARA