**Borneonews - Gaza**, Perwakilan Dana Kependudukan PBB (UNFPA) untuk Palestina, Nestor Owomuhangi, menyatakan bahwa kemarahan yang semakin meningkat di antara penduduk Jalur Gaza menciptakan situasi yang penuh kekacauan dan penjarahan. Dalam sebuah konferensi pers virtual yang digelar pada hari Kamis, Owomuhangi berbagi pengalaman dari kunjungannya selama delapan hari ke wilayah yang dilanda konflik ini.
Dia menjelaskan bahwa level kehancuran, kehilangan nyawa, dan keputusasaan di Gaza telah mencapai tingkatan yang luar biasa. Owomuhangi juga mengungkapkan bahwa usaha UNFPA untuk mengunjungi rumah sakit di Gaza utara dihalangi oleh otoritas Israel. Sekitar 2,1 juta penduduk Gaza saat ini terjebak dalam situasi darurat yang merujuk pada bencana kemanusiaan akibat tindakan yang dianggap sebagai genosida yang berlangsung selama satu tahun.
Di tengah serangan gencar yang diluncurkan oleh Israel, banyak warga Gaza terpaksa mengungsi berulang kali. Dia mencatat bahwa salah satu individu yang ditemuinya mengaku sudah pindah tempat tinggal sebanyak 15 kali. Owomuhangi melanjutkan dengan menyebutkan bahwa lebih dari lima persen penduduk Gaza telah mengalami kematian, luka-luka, atau hilang. Dia menegaskan bahwa kemarahan yang melanda masyarakat berdampak pada 96 persen dari mereka, dan hal ini menambah ketegangan terhadap para pekerja kemanusiaan saat kondisi semakin memburuk.
Dalam pernyataannya, Owomuhangi merujuk pada banyaknya postingan di media sosial yang mempertanyakan efektivitas PBB dalam memberikan bantuan kepada warga Gaza. Dia juga menggarisbawahi bahwa saat ini terdapat sekitar 49 ribu ibu hamil, di mana 4.000 di antaranya akan melahirkan dalam waktu dekat. Ini berarti akan ada sekitar 130 kelahiran setiap harinya, dan dia mengingatkan bahwa risiko keguguran serta kematian saat melahirkan semakin meningkat.
Sementara situasi kemanusiaan semakin memburuk, Owomuhangi mencatat bahwa jumlah ibu hamil yang mengalami keguguran atau meninggal saat melahirkan meningkat tiga kali lipat. Di balik semua ini, faktor seperti kekurangan gizi dan tingkat kecemasan yang tinggi menghambat kemampuan para ibu menyusui, dan banyak dari mereka tidak dapat menjangkau susu formula yang harganya tidak terjangkau atau bahkan tidak tersedia.
Dia menambahkan bahwa lebih dari 17 ribu ibu hamil berada di ambang kelaparan, sedangkan 11 ribu lainnya sudah mengalami kondisi kekurangan gizi yang parah. Dengan memperhatikan tantangan besar yang dihadapi dalam mendistribusikan bantuan kemanusiaan, Owomuhangi menyoroti bahwa masalah logistik sangat sulit diatasi.
Pada bulan September, dia mencatat bahwa 87 persen dari 588 gerakan kemanusiaan yang direncanakan telah terhalang atau ditolak oleh pihak Israel, sehingga ini mengakibatkan kelangkaan bahan-bahan yang sangat dibutuhkan. Dia menegaskan kekurangan yang serius mencakup obat penghilang rasa sakit hingga antibiotik, sementara masalah utama adalah proses pengiriman barang-barang tersebut ke fasilitas pelayanan kesehatan yang memerlukannya.
Owomuhangi menambahkan bahwa membawa masuk barang-barang ini ke Gaza memerlukan waktu sekitar empat hingga lima bulan, bukan hanya karena besarnya volume pengiriman tetapi juga disebabkan faktor keamanan yang rendah dalam distribusinya.
ANTARA
Kemarahan Warga Gaza Meningkat Usai Serangan Israel, PBB Waspadai Kekacauan
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Komentar (0)
Memuat komentar…







