JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Praktisi kesehatan masyarakat, Dr. Ngabila Salama, menegaskan bahwa pria juga berpotensi mengalami kanker payudara, meskipun kejadian ini tergolong sangat jarang, yaitu kurang dari satu persen dari total kasus. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan terhadap pertanyaan penonton pada siaran yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan di Jakarta. Dr. Ngabila menjelaskan bahwa penyebab utama kanker payudara pada pria seringkali berkaitan dengan kondisi hiperestrogenisme, yaitu kelebihan hormon *estrogen* dalam tubuh. Untuk mengatasi kondisi ini, pasien biasanya diberikan pengobatan yang bertujuan menekan produksi hormon tersebut. Gejala yang muncul pada pria dengan kanker payudara mirip dengan yang dialami oleh perempuan. Beberapa gejala tersebut meliputi pembesaran jaringan payudara, kekerasan pada payudara dan puting, serta ketertarikan puting ke dalam. Selain itu, dapat juga terjadi keluarnya cairan dari puting, pembesaran kelenjar getah bening di sekitar ketiak atau leher, bahkan terkadang disertai dengan bau tidak sedap di area payudara. Dalam hal penanganan, prosedur yang dilakukan untuk menangani kanker payudara pada pria serupa dengan yang dilakukan pada wanita. Langkah pertama adalah melakukan pemeriksaan untuk menentukan tingkat keparahan kanker melalui *ultrasonografi* (USG), *mamografi*, *CT scan*, atau *MRI*. Setelah diagnosis ditegakkan, langkah selanjutnya biasanya melibatkan kemoterapi, radioterapi, pembedahan, serta pengangkatan sel tumor. Lebih lanjut, Dr. Ngabila mengingatkan pentingnya pemantauan kesehatan berkelanjutan. Pasien yang sebelumnya mengalami tumor jinak atau ganas di payudara memiliki risiko tinggi untuk mengalami kekambuhan. Oleh karena itu, para penyintas kanker dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali, seperti USG atau mamografi. Dalam sesi tersebut, Dr. Ngabila juga menyampaikan bahwa kanker payudara termasuk salah satu jenis kanker yang cukup umum dan memiliki tingkat kematian yang tinggi. Prevalensi kanker ini mencapai 12 persen, sementara hanya ada 10 persen harapan hidup bagi penderita stadium 3 dan 4. Sebaliknya, jika kanker terdeteksi pada stadium 1 dan 2, angka kesembuhannya bisa mencapai 80-90 persen. Ia menekankan bahwa deteksi dini tidak hanya meningkatkan persentase harapan hidup tetapi juga dapat menurunkan biaya terapi hingga tujuh kali lipat. Selain itu, untuk mencegah kanker payudara, penting bagi setiap orang untuk menghindari faktor risiko yang dapat meningkatkan peluang terjadinya kanker, seperti mengurangi paparan zat *karsinogenik*, termasuk rokok, mikroplastik, bahan pengawet, serta berbagai zat kimia berbahaya. ANTARA