JAKARTA –
**Borneonews - Arcahaie, Haiti**, serangan yang dilancarkan oleh kelompok bersenjata terjadi pada sebuah kota di utara ibu kota Haiti pada hari Kamis, 10 Oktober. Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah salah satu pembantaian paling mengerikan dalam sejarah negara tersebut. Sejumlah penduduk setempat melaporkan bahwa setidaknya satu orang tewas akibat serangan tersebut. Kekhawatiran pun muncul di kalangan warga Haiti tentang kemungkinan meningkatnya jumlah korban jiwa di Arcahaie, sebuah kota pesisir, akibat kekerasan yang dilakukan oleh geng-geng tersebut. Warga yang terjebak dalam situasi mencekam terlihat menelepon stasiun radio setempat sambil meminta agar pihak kepolisian segera memberikan bantuan untuk menyelamatkan mereka dari ancaman. Arcahaie, yang terletak di utara Port-au-Prince, merupakan posisi penting yang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok geng kuat di Haiti untuk memperluas pengaruh mereka ke berbagai daerah di negeri ini. Saat ini, kabarnya geng-geng tersebut telah menguasai sekitar 80 persen wilayah ibu kota. Sebelumnya, pada pekan lalu, anggota geng juga melancarkan penyerangan di kota Pont-Sonde yang terletak di bagian tengah Haiti. Serangan tersebut menyebabkan tewasnya 115 orang, termasuk bayi, ibu-ibu, dan orang tua. Menurut laporan yang diperoleh dari kelompok hak asasi manusia setempat, para pelaku mendekati Pont-Sonde dengan menggunakan perahu kano sebelum fajar, melakukan penembakan yang melukai banyak warga secara mendadak, dan kemudian membakar rumah-rumah milik penduduk. Peristiwa ini telah memaksa lebih dari 6.200 orang untuk mengungsi dari tempat tinggal mereka. Kekerasan yang terus meningkat di Haiti, yang ditandai dengan serangan-serangan geng tanpa pandang bulu, menyebabkan lonjakan jumlah kejahatan yang menargetkan warga sipil, termasuk anak-anak. Amnesti Internasional pada hari Kamis menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai kekerasan yang berhubungan dengan geng yang khususnya menyasar anak-anak. Ana Piquer, direktur Amnesti Internasional untuk Amerika, menyatakan, “Kami telah mendokumentasikan kisah-kisah memilukan tentang anak-anak yang dipaksa untuk bekerja untuk geng bersenjata – mulai dari mengantarkan barang, mengumpulkan informasi, hingga melakukan pekerjaan domestik di bawah ancaman kekerasan.” Di samping itu, isu perudapaksaan dan kekerasan seksual juga menimpa anak perempuan. "Keputusasaan yang mereka alami sangat mengganggu; banyak dari mereka yang terpaksa mengungsi atau bahkan tidak memiliki tempat tinggal,” lanjutnya. Menyikapi situasi ini, Perdana Menteri Haiti Garry Conille melakukan kunjungan resmi ke Kenya pada hari Kamis yang diperuntukkan selama empat hari. Dalam kunjungan tersebut, ia berharap dapat bertemu dengan Presiden Kenya, William Ruto, untuk mencari dukungan lebih lanjut terkait Misi Dukungan Keamanan Multinasional yang telah diberikan mandat oleh PBB di Haiti, yang mulai beroperasi di negara ini pada musim panas lalu. ANTARA