**Borneonews - Jakarta**, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Teten Masduki, menegaskan bahwa intervensi teknologi bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sangatlah penting. Hal ini merupakan langkah strategis dalam pembangunan industri kecil dan menengah yang memiliki daya saing serta berkelanjutan.
Menurut Teten, adopsi teknologi dalam sektor UMKM menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, dan menciptakan lapangan kerja baru yang berkualitas. Ia mengungkapkan kekhawatirannya jika Indonesia kembali berusaha mengikuti pola tahun 80-an, yakni mengandalkan relokasi industri manufaktur yang *labor intensive*. Ia menyatakan, "Dengan penerapan *Internet of Things* (IoT) di industri manufaktur saat ini, saya tidak terlalu optimistis jika ini dapat menciptakan banyak lapangan kerja."
Teten juga mengekspresikan keprihatinannya terhadap perusahaan-perusahaan manufaktur dalam negeri yang sudah menggunakan teknologi modern seperti *smart factory*, yang meminimalkan kebutuhan akan tenaga kerja. Oleh karena itu, ia meyakini bahwa dengan dukungan teknologi canggih, UMKM akan mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam menciptakan lapangan kerja yang tidak hanya banyak tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Teten menggarisbawahi pentingnya pengembangan industri menengah yang berbasis pada keunggulan sumber daya domestik. Ini diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja baru dan membangun ekonomi yang berkelanjutan. Ia mengingatkan bahwa upaya industrialisasi besar-besaran yang pernah dilaksanakan pada pertengahan tahun 90-an dengan bergantung pada investasi asing dan relokasi industri manufaktur terbukti tidak berkelanjutan.
Menteri Teten menyoroti bahwa model bisnis yang bergantung pada tenaga kerja murah dan teknologi impor cenderung bersifat sementara, yang sering disebut sebagai *sunset industry*. Ia memberikan contoh bahwa Indonesia pernah menjadi pemimpin pasar internasional untuk sepatu olahraga dengan memiliki pangsa pasar 20 persen, akan tetapi saat ini merepresentasikan hanya 2 persen.
"Saya percaya bahwa jika kita fokus pada hilirisasi dari sumber daya alam yang kita miliki, industri ini akan berkelanjutan dan mampu tumbuh," tambah Teten.
Sebagai langkah nyata dalam upaya hilirisasi, Kementerian Koperasi dan UKM telah mendirikan beberapa pabrik menengah berupa rumah produksi bersama (RPB). RPB ini berfungsi untuk mengolah potensi lokal menjadi produk-produk unggulan yang bernilai tambah tinggi. Hingga saat ini, 11 RPB telah dibangun, termasuk untuk komoditas seperti cabai merah di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, kulit di Kabupaten Garut, rotan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, susu di Yogyakarta, kakao di Jembrana, Bali, karet di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, garam di Pangkep, Sulawesi Selatan, serta bambu di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
ANTARA
Peran Teknologi dalam Meningkatkan Daya Saing UMKM Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Veda Pratama Hormati Keputusan Pembatalan Moto3 Australia
Kebakaran Terjadi di Masjid Al-Muhajirin Cempaga Kotim
Ganda Campuran China Li/Huang Juarai Indonesia Masters 2026
BPN Berkontribusi Tingkatkan Nilai Ekonomi hingga Rp1.834 Triliun
Kebakaran di Jalan Pahlawan Marabahan, Api Membesar Dekat Sekolah
Pohon Tumbang dan Bangunan Rusak Diterjang Angin Kencang di Banjarbaru
Komentar (0)
Memuat komentar…







