BORNEONEWS, Sukamara - Belum adanya jalan tembus ke ibukota Kabupaten Sukamara melalui jalur darat dengan wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Barat saat ini dikeluhkan sebagian warga yang tinggal di sekitar perbatasan. Mengingat untuk bisa bepergian ke Ibukota Sukamara maka warga perbatasan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk membayar biaya transportasi sungai.
Supardi, salah seorang warga Jambi Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat menuturkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan dan berbagai urusan pihaknya lebih banyak melakukannya di Kabupaten Sukamara (Kalimantan Tengah) karena jaraknya lebih dekat dibanding harus ke Ketapang (Kalimantan Barat).
"Bahkan untuk keperluan perbankan kami harus melakukan di Kabupaten Sukamara mengingat wilayah ini paling dekat dengan tempat tinggal kami di Jambi," kata Supardi, saat dibincangi disebuah kantor perbankan di Kabupaten Sukamara pada Jumat(26/08).
Menurutnya, meskipun jarak cukup dekat dengan Kabupaten Sukamara namun biaya yang dikeluarkan terbilang cukup besar dengan menggunakan transportasi sungai, padahal kalau ada jalan penghubung melalui darat maka warga bisa menģunakan kendaraan pribadi dan bisa menghemat biaya.
"Naik speed boat dengan waktu tempuh hanya sekitar 15 menit harus mengeluarkan biaya Rp45 ribu, seandainya ada jalan pengubung atau nanti jembatan Jelai sudah rampung dengan jalannya maka warga bisa menģgunakan sepeda motor dan biaya pasti lebih irit," ujar Supardi.
Sementara, Iwan salah seorang motoris speed boat mengatakan bahwa saat ini angkutan sungai memang masih menjadi andalan bagi warga yang ingin menjangkau wilayah di perbatasan Kalimantan Barat seperti wilayah Jambi, Manis Mata dan beberapa wilayah lainnya mengingat belum ada akses pengubung langsung dari Kota Sukamara kewilayah tersebut.
"Sekarang memang angkutan sungai masih menjadi pilihan, kalau nanti jalan sudah tembus kemungkinan angkutan sungai akan ditinggalkan dan digantikan dengan angkutan darat," ujar Iwan. (MG-13)








