**Borneonews - Jakarta**, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa, menekankan pentingnya menurunkan angka *Incremental Capital Output Ratio* (ICOR) Indonesia hingga mencapai tingkat minimum. Upaya ini sangat krusial untuk memutus rantai jebakan negara pendapatan menengah atau *middle income trap*.
Dalam sebuah forum CEO yang disiarkan secara daring, Suharso menjelaskan bahwa penurunan angka ICOR merupakan bagian dari upaya efisiensi yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. Beberapa langkah yang diambil meliputi digitalisasi dan penyederhanaan birokrasi. Namun, ia menekankan bahwa langkah-langkah tersebut perlu dilaksanakan tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga harus diterapkan secara merata hingga ke tingkat yang paling dasar agar dapat dirasakan oleh masyarakat dan mendapatkan tanggapan positif dari publik.
Saat ini, angka ICOR Indonesia berada di angka enam. Dengan rasio ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan dapat mencapai lima persen. Namun, jika ICOR dapat diturunkan menjadi lima, pertumbuhan ekonomi berpotensi naik menjadi enam persen. ICOR sendiri merupakan perbandingan antara pertumbuhan ekonomi dan investasi yang diperlukan untuk mencapainya. Artinya, untuk setiap satu persen pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), Indonesia memerlukan enam persen peningkatan investasi.
Suharso menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia dapat lepas dari *middle income trap*, berkat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 yang direncanakan dengan sangat baik dan kuat secara kuantitatif. Bappenas juga menjalin kerja sama dengan sejumlah universitas terkemuka di dunia, termasuk Harvard, untuk melakukan analisis pertumbuhan atau *diagnostic growth*. Diagnosis ini diharapkan dapat mengidentifikasi apakah Indonesia sudah berada di jalur yang tepat serta memberikan perbandingan dengan negara-negara lain yang sebanding.
Suharso mengilustrasikan hal ini dengan mengambil contoh China. Negara tersebut diprediksi akan naik kelas menjadi negara dengan pendapatan per kapita tertinggi pada tahun depan, dengan nilai mendekati ambang batas 14.000 dolar AS. Saat ini, Indonesia masih berada di angka 5.000 dolar AS, dan Suharso mempersoalkan bagaimana cara Indonesia dapat mencapai level yang sama dengan China dalam hal pendapatan per kapita.
Lebih lanjut, Suharso juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh tenaga kerja. Banyak pekerja di Indonesia yang hanya bekerja sekitar 20 jam per minggu dengan imbalan sekitar Rp500.000. Ia berpendapat bahwa seharusnya para pekerja tersebut menerima bayaran yang lebih layak, yakni sekitar Rp2.250.000 untuk durasi kerja yang sama.
"Dari total 50 juta tenaga kerja, banyak di antaranya bekerja kurang dari 20 jam per minggu dengan upah hanya Rp500.000. Pertanyaannya, untuk meningkatkan produktivitas dan menurunkan ICOR, apakah ada pekerjaan yang bisa ditambah dari 20 jam menjadi 30 jam? Pekerjaan yang berkualitas dapat menghasilkan pembayaran yang lebih tinggi, misalnya Rp4 juta per minggu, akan memberikan dampak yang signifikan," tutup Suharso.
ANTARA
Upaya Menurunkan ICOR untuk Lepas dari Jebakan Pendapatan Menengah
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Seorang Pria Meninggal Dunia Saat Salat Jum'at di Masjid Al Hidayah Banjarmasin
Bayi Laki-Laki Ditemukan di Pelataran Musala di Kotabaru
Warga Kasongan Dihebohkan Penemuan Mayat Membusuk di Parit Jalan DI Panjaitan
Topan Champi Ancam Taiwan, Sekolah dan Perkantoran Ditutup di 20 Wilayah
Distribusi Masih Jadi Hambatan, Industri Komik Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
Komentar (0)
Memuat komentar…







