JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Tim Ekonomi yang mengawal pasangan presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Laode Masihu, mengemukakan bahwa pengembangan pusat data (*data center*) dipandang sebagai peluang bisnis yang tidak hanya menguntungkan namun juga menarik untuk investasi di masa depan. Dalam sebuah diskusi yang diadakan oleh Kompas dalam acara CEO 100, Laode Masihu mengungkapkan, "Pusat data menjadi isu yang menarik. Saya ingin menyarankan kepada rekan-rekan CEO, bahwa bisnis di sektor pusat data memiliki potensi yang besar ke depannya." Diskusi tersebut diselenggarakan di Istana Garuda di Ibu Kota Nusantara (IKN) dan ditayangkan secara langsung di Jakarta. Lebih lanjut, Laode menjelaskan bahwa tren ekonomi global saat ini menunjukkan pergeseran menuju pengumpulan data yang semakin kompleks, yang dilakukan secara langsung (*real time*) dan interaktif. Salah satu contohnya adalah dalam konteks perdagangan karbon yang memerlukan pusat data yang akurat. "Laode menambahkan, 'Saya melakukan *exercise* dalam konteks ini, perdagangan karbon serupa dengan ramalan cuaca. Saat ini, pada jam tertentu, saya dapat memverifikasi berapa banyak karbon yang ada di IKN dan memungkinkan untuk melakukan *deal* secara langsung. Inilah cara baru dalam berbisnis'," ujarnya. Dengan demikian, Laode menekankan bahwa dalam era kepemimpinan Prabowo-Gibran, pemajukan kebijakan ekonomi akan berfokus pada penerapan platform digital berbasis big data. Big data sendiri merupakan sekumpulan informasi yang sangat besar dan kompleks, yang dihasilkan dari berbagai sumber dengan kecepatan tinggi. Data ini dihasilkan melalui berbagai teknologi, termasuk media sosial dan transaksi bisnis. Untuk mewujudkan pengelolaan big data yang lebih efektif, pihaknya berencana untuk menyelaraskan data di seluruh Indonesia dan memanfaatkan kecerdasan buatan (*artificial intelligence*) dalam proses pengolahannya. Lebih jauh, Laode mengidentifikasi pentingnya peran generasi Z dalam mendorong kemajuan ekonomi Indonesia yang berbasis data. Dia menjelaskan, "Generasi emas ini adalah generasi Z, yang perlu diperbaiki pertama adalah literasi TI-nya, melalui pelatihan yang tepat. Selain itu, literasi digital dan kompetensi juga harus diperhatikan." Sebelumnya, Laode Masihu menggarisbawahi dua poin penting yang dapat memperbaiki stagnasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini berada pada angka 5 persen. Kedua poin tersebut mencakup ekonomi karbon serta reformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dia menjabarkan bahwa ekonomi karbon, baik yang berkaitan dengan sektor karbon hijau (*green*) maupun karbon biru (*blue*), memiliki potensi untuk meningkatkan perekonomian Indonesia dan menciptakan lapangan kerja baru. Sedangkan untuk reformasi BUMN, fokus utamanya adalah pada optimalisasi profesionalisme serta pemberdayaan perekonomian. ANTARA