JAKARTA –
**Borneonews - Beijing**, Pemerintah China optimis bahwa peningkatan Free Trade Area (FTA) China-ASEAN menjadi versi 3.0 akan mampu memperkuat rantai pasok di wilayah Asia Tenggara. Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning, menjelaskan bahwa selama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang berlangsung pada 9 hingga 11 Oktober 2024 di Vientiane, Laos, para pemimpin kedua pihak telah menyepakati pencapaian substansial dari negosiasi FTA 3.0. Kesepakatan ini menjadi penting karena untuk pertama kalinya, FTA 3.0 mencakup bab-bab mengenai konektivitas dalam ekonomi digital, ekonomi berkelanjutan, dan peningkatan rantai pasok yang memenuhi standar tinggi dari semua perjanjian yang ada antara negara-negara terkait. Mao Ning menekankan bahwa hasil dari negosiasi ini secara komprehensif diharapkan dapat memperluas kerjasama yang saling menguntungkan di antara negara-negara anggota ASEAN dan China dalam bidang yang tengah berkembang. Lebih lanjut, Mao Ning mengungkapkan bahwa negosiasi FTA 3.0 bertujuan untuk menyatukan standar dan aturan antara kedua pihak, serta membangun jaringan kerjasama rantai pasok yang aman, stabil, efisien, dan bebas hambatan. Dalam acara KTT tersebut, para pemimpin negara juga mendiskusikan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Timur, serta mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Mao Ning menjelaskan bahwa para pemimpin sepakat untuk bersama-sama menghadapi tantangan dunia yang samar, dengan mengedepankan prinsip perdagangan bebas, serta meningkatkan konektivitas dalam industri dan rantai pasok. Selain itu, mereka juga berkomitmen untuk membangun kekuatan pendorong bagi pembangunan berkualitas tinggi dan turut memajukan integrasi pembangunan ekonomi regional. China di bawah kepemimpinan Mao Ning menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan negara-negara ASEAN dalam menciptakan jaringan konektivitas yang lebih baik. Kerjasama ini tidak hanya difokuskan pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga dalam mengeksplorasi potensi kolaborasi di industri baru serta memperdalam pertukaran antar masyarakat. Dalam diskusi dalam KTT ASEAN Plus Three, Mao Ning merujuk pada pernyataan Perdana Menteri China, Li Qiang. China menunjukkan ketertarikan untuk melanjutkan kerjasama dengan ASEAN, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Asia lainnya. Secara khusus, para pemimpin ASEAN, China, Jepang, dan Korea Selatan menekankan pentingnya penguatan konektivitas rantai pasok regional yang akan menciptakan pemahaman bersama tentang peningkatan koordinasi di bidang rantai pasok tersebut. Penting untuk dicatat bahwa kesepakatan pertama antara ASEAN dan China mengenai FTA telah ditandatangani pada tahun 2015 dan mulai berlaku secara resmi pada tahun 2019. Kesepakatan ini melibatkan perbaikan dalam hal aturan asal, prosedur bea cukai, serta fasilitasi perdagangan, investasi, dan kerjasama ekonomi dan teknis, termasuk akses pasar untuk layanan. Data perdagangan dari Januari hingga Agustus 2024 menunjukkan bahwa perdagangan antara China dan ASEAN mencapai 4,5 triliun yuan, setara dengan 638 miliar dolar AS atau sekitar Rp9,9 kuadriliun. Hal ini mengindikasikan peningkatan sebesar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan memberikan kontribusi sebesar 15,7 persen terhadap total perdagangan luar negeri China selama periode itu. ANTARA