SURABAYA –
**Borneonews - Trenggalek**, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, mulai melaksanakan langkah-langkah mitigasi untuk menghadapi wabah demam berdarah. Hal ini seiring dengan meningkatnya jumlah kasus demam berdarah yang terdeteksi di wilayah tersebut per tanggal 7 Oktober 2024. Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Sunarto, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengambil berbagai langkah untuk menangani lonjakan kasus *DBD* (demam berdarah dengue) yang terjadi pada awal bulan ini. Tindakan tersebut mencakup pelaksanaan kampanye pemberantasan sarang nyamuk dengan menerapkan program 3M Plus. Program ini meliputi kegiatan menguras, menutup, dan mengubur tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta melakukan *abatisasi* dengan menaburkan ikan di genangan air dan mendorong masyarakat untuk menggunakan olesan anti-nyamuk. Lebih lanjut, Sunarto menyatakan bahwa dalam upaya penanggulangan ini, juga diaktifkan peran juru pemantau jentik. Selain itu, advokasi lintas sektor dilakukan untuk memenuhi ketersediaan obat-obatan dan perbekalan kesehatan yang diperlukan dalam perawatan pasien *DBD*. Fasilitas kesehatan, baik yang bersifat primer maupun rujukan, juga sedang dipersiapkan, termasuk pelaksanaan *fogging* secara selektif. Sunarto menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat, khususnya mengingat kondisi cuaca yang fluktuatif saat ini. Salah satu aspek mitigasi yang ditekankan adalah pemahaman mengenai gejala *DBD*. Gejala tersebut antara lain mencakup demam yang naik turun dalam minggu pertama, mual muntah, serta adanya perdarahan pada kulit, hidung, gusi, dan selaput lendir lainnya. Dari segi epidemiologi, kelompok usia yang paling banyak terinveksi mencakup 47 persen dalam rentang usia 15-44 tahun, diikuti oleh 30,5 persen pada usia 5-14 tahun, dan 17,4 persen untuk individu yang berusia di atas 44 tahun. Sunarto menambahkan bahwa tidak ada pasien yang dilaporkan meninggal dunia akibat *DBD* dalam periode ini. Peningkatan kasus *DBD* di Kabupaten Trenggalek terbilang signifikan. Hasil laporan per tanggal 7 Oktober menunjukkan bahwa jumlah kasus mencapai 817, melonjak tajam dari hanya 129 kasus yang tercatat pada tahun 2023. Sunarto menjelaskan bahwa hal ini menunjukkan adanya peningkatan yang drastis, dari 129 kasus pada tahun lalu menjadi 817 kasus pada tahun ini. ANTARA