JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Guru Besar Ilmu Politik dari Universitas Andalas, Prof. Asrinaldi, menyatakan bahwa calon presiden yang terpilih dalam Pemilu 2024, Prabowo Subianto, tidak perlu merasa cemas mengenai penggunaan istilah-istilah yang umum atau padanan kata yang sering dipakai masyarakat. Pernyataan ini disampaikan Prof. Asrinaldi setelah mendengar Prabowo menyoroti kemampuan masyarakat Indonesia untuk menemukan istilah yang lebih menarik untuk didengar. Menurutnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kecuali jika istilah tersebut merupakan istilah baru yang dibuat tanpa dasar. Ia menjelaskan bahwa penggunaan istilah-istilah umum yang sudah ada, terutama yang sering digunakan dalam konteks ilmu pengetahuan dan penyelenggaraan pemerintahan di berbagai negara, tidak seharusnya menimbulkan masalah. Lebih lanjut, Prof. Asrinaldi berpendapat bahwa mengadopsi padanan kata yang banyak digunakan tidak hanya akan memperindah cara berkomunikasi pemerintahan Prabowo, tetapi juga dapat memberikan kesan berkelas, terutama ketika istilah tersebut memiliki relevansi internasional. Sebelumnya, saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Legislatif PKB di Jakarta pada hari Kamis, Prabowo menyampaikan pandangannya mengenai kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang masih menghadapi tantangan besar. Ia menjelaskan bahwa banyak dari rakyat masih berada dalam keadaan miskin, namun berusaha untuk keluar dari kondisi tersebut. Prabowo menjelaskan, "Dia bukan miskin, dia prasejahtera. Dia berharap untuk meningkat ke kelas menengah, istilah yang sering kita dengar adalah *aspiring middle class*, yang berarti dia memiliki harapan untuk mencapai tingkat menengah." Hal ini jelas menggambarkan bahwa meski ada harapan, banyak yang saat ini belum mencapai status yang nyaman secara ekonomi. Ia melanjutkan, "Apa artinya jika ada harapan untuk mencapai tingkat menengah? Itu artinya dia belum mencapai status tersebut, yang menunjukkan bahwa mereka masih miskin. Hal ini perlu disadari." Prabowo menekankan pentingnya untuk mengajak semua pihak untuk menyatakan dengan tegas kondisi yang ada tanpa terjebak dalam istilah yang lebih manis. "Ya bilang miskin, ya, miskin gitu loh. Meskipun tidak enak, tetapi sebagai pemimpin kita harus berani untuk mengakui kenyataan tersebut dan melihat kesulitan yang dihadapi masyarakat," tuturnya dengan tegas. ANTARA