BANDAR LAMPUNG –
**Borneonews - Bandarlampung**, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk dari BKKBN RI, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, mengungkapkan bahwa aksi konvergensi dalam penanganan stunting dapat mendorong partisipasi dari berbagai sektor. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kolaborasi dalam upaya mengatasi masalah stunting yang menjadi perhatian penting di Indonesia. "Sebagaimana yang telah diketahui, anggaran yang dialokasikan untuk program penanganan stunting melalui APBD di berbagai daerah sangat bervariasi. Oleh karena itu, pelaksanaan konvergensi ini menjadi penting untuk mendorong partisipasi dari seluruh pihak terkait," ungkap Bonivasius Prasetya Ichtiarto saat memberikan paparan di Bandarlampung, pada hari Sabtu. Ia menjelaskan bahwa melalui aksi konvergensi, sumber pendanaan untuk pelaksanaan program penanggulangan stunting dapat diperoleh dari berbagai sumber, tidak hanya terbatas pada APBD atau APBN, tetapi juga melibatkan sektor swasta dan masyarakat. "Kontribusi ini penting agar sumber daya untuk penanganan stunting tidak hanya berasal dari alokasi keuangan negara. Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) juga dapat digunakan, bahkan dana desa dapat dialokasikan untuk membantu penanganan masalah stunting," katanya menambahkan. Dalam implementasi program pengurangan stunting tersebut, Bonivasius menekankan pentingnya penyediaan makanan bergizi bagi balita sebagai langkah awal yang perlu dilakukan. Ia menggarisbawahi bahwa pengelolaan program ini seharusnya tidak terbatas hanya kepada instansi pemerintah semata, namun juga melibatkan organisasi lain, seperti PKK, sehingga semua pihak bisa berpartisipasi dalam penanggulangan stunting. Sementara itu, Ganjar Jationo, Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Provinsi Lampung, juga memberikan penegasan. Ia mengungkapkan rasa syukurnya terhadap data survei kesehatan (SKI) yang menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Lampung telah mengalami penurunan menjadi 14,9 persen, dibandingkan 15,2 persen pada tahun sebelumnya. "Mudah-mudahan momentum positif ini dapat meningkatkan kinerja kita untuk terus menurunkan angka prevalensi stunting sesuai dengan target yang telah ditentukan," tutur Ganjar. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa untuk mencapai target penurunan stunting yang ditetapkan pada tahun 2024, dibutuhkan komitmen yang kuat dari berbagai pihak dalam implementasi akselerasi penurunan stunting melalui konvergensi. "Aksi konvergensi sangat penting untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi antar semua pihak, sehingga kualitas program dapat meningkat. Dengan kolaborasi yang baik, penyampaian pesan dari pemerintah kepada masyarakat juga dapat dilakukan dengan lebih efektif," pungkasnya. ANTARA