BORNEONEWS, Pangkalan Bun --Para petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) Pilkada Kotawaringin Barat 2017 menemukan berbagai persoalan. Persoalan itu semakin terlihat runyam ketika mereka melakukan verifikasi KTP (Kartu Tanda Penduduk) untuk mendukung bakal calon perseorangan (independen). Banyak ditemukan dukungan ganda. Satu salinan (foto copy) KTP mendukung dua atau tiga kandidat sekaligus.
Sebagaimana diketahui, Tiga pasangan bakal calon perseorangan yang kini sedang diverifikasi di lapangan oleh KPU Kotawaringin Barat adalah pasangan Indrawan Sakti-Nurhanudin, Eko Sumarno-Yudie Junas, dan Desi Hercules-Gusti M. Awalauddin.
Petugas PPS di lapangan bukan hanya menemukan KTP milik warga yang mendukung pasangan A tetapi juga mendukung pasangan B. Selain itu, juga dijumpai KTP warga yang berstatus sebagai Aparatus Sipil Negara (ASN) memberikan dukungan pada para bakal calon tersebut.
Kasus yang paling banyak dijumpai adalah, adanya dukungan ganda bagi para pemilik KTP tersebut. Satu KTP bukan hanya berada (mendukung) dua pasang kandidat, tetapi malah ada pula di tiga kandidat.
Nara sumber Borneonews yang tidakmau jati dirinya diungkapkan menyebutkan, kekisruhan yang pelik itu salah satunya dijumpai di Desa Sei Bakau, Kecamatan Kumai. “Di desa itu ada 400-an KTP yang sama dimiliki oleh ketiga kandidat,” tuturnya.
Kisruh KTP dukungan ini juga muncul di daerah Sebukat dan Sungai Pakit, Kecamatan Pangkalan Banteng. Ada seorang petugas kesehatan yang mengumpulkan KTP warga, yang kemudian diberikan ke salah satu kandidat. Sementara warga tersebut mengaku tidak mendukung kandidat tersebut, melainkan mendukung kandidat lain.
“Repotnya petugas kesehatan tersebut juga bertugas sebagai PPS yang kini melakukan verifikasi,” kata sumber Borneonews lainnya.
Sebagaimana diberitakan, Aswin, salah seorang petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Pangkalan Banteng menuturkan, sejak Kamis (25/8/2016), pelaksanaan verifikasi faktual syarat dukungan para balon pasangan perseorangan Pilkada Kobar di wilayahnya dilakukan secara merata di seluruh desa. Namun begitu, verifikasi ini diakuinya tidak seluruhnya berjalan lancar. Sebab, sebagian besar penduduk di kecamatan tersebut sulit ditemui. Terutama pada siang hari.
"Soalnya hampir seluruh warga di sana bekerja di kebun. Jadi disiasati. Yang ganda dukungan ditandai dulu baru didatangi. Kemarin di Desa Natai Kerbau, mereka (PPS) bisa memverifikasi sekitar 40 dukungan," terang Aswin, Jumat (26/8/2016).
Aswin mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterima dari sejumlah PPS, terdapat beberapa warga yang tidak terima dan mengeluh kepada pihak PPS, lantaran salinan KTP dan tanda tangannya terdaftar dalam dukungan balon perseorangan tertentu. Sementara warga yang dimaksud mengaku tidak pernah memberikan dukungan atau salinan KTP dan tanda tangan kepada balon perseorangan manapun.
"Ada juga warga yang bingung. Karena, dia mengaku memberi dukungan kepada balon pasangan A misalnya, tapi kok salian KTP dan tanda tangannya ada di balon pasangan B. Akhirnya, karena merasa tidak mendukung, mereka mengisi lampiran formulir model BA.5-KWK yang berisi pernyataan tidak mendukung." (RD/*)








