JASMERAH. Itulah kata-kata yang sering dikumandangkan Presiden Pertama RI Bung Karno di podium-podiun dan di buku-buku.
Jasmerah. Adalah akronim dari ‘Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah’. Sejarah, bisa berarti peristiwa-peristiwa besar dan penting, khususnya yang berkaitan dengan denyut nadi perjuangan nasional menuju Kemerdekaan RI. Tetapi yang paling penting dantak boleh diabaikan dalam sejarah adalah para pelaku, para tokoh, para pemimpin yang mengendalikan jalannya perjuangan itu.
Dan, para tokoh yang pada era pergerakan turut berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu, sebagian kecil saat ini masih hidup. Mereka kini hidup di tengah keluarga yang umumnya biasa-bisa saja. Bahkan, banyak yang terkungkung dalam kemiskinan. Orang-orang yang umumnya sudah tua renta itu, meski masuk dalam daftar kaum Veteran, tetapi bisa dibilang tidak mendapat perhatian dari negara.
Tak ada dana pensiun, tak ada tunjangan veteran, tak ada bantuan. Tidak mendapat apa-apa. Sebagai contoh, Imanuel Nuhan, yang bisa disebut sebagai ‘Bapak Korpaskhas’ TNI AU, karena jasanya sebagai penerjun pertama dalam pergolakan mempertahankan Kemerdekaan RI di Kalimantan tahun 1947. Tapi dari triliunan dana APBD Provinsi dan ratusan miliar dana APBD Kabupaten/Kota, tak serupiahpun dialokasikan untuk mereka. Dinas Sosial, yang mestinya mengurusi mereka, tak mempedulikannya.
Orang-orang berjasa seperti Imanuel Nuhan, masih banyak di daerah ini. Perlu diketahui, daerah seperti Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Kapuas bahkan juga daerah sepanjang Sungai Barito, adalah medan laga pertempuran melawan Belanda.
Karena itu, dapat dipastikan banyak putera-putera terbaik bangsa ini tersebar di mana-mana. Tetapi karena tak terurus, sudah pasti pula, mereka tercecer di mana-mana pula.
Beruntunglah ada yang mengingatkan soal ini. Anggota DPRD Provinsi Kalteng, Sriosako mengingatkan pentingnya anggaran untuk tunjangan Veteran. Bagai gayung bersambut, Gubernur Kalteng Sugianto Sabran sepakat dengan gagasan itu.
Benar, itu memang kewajiban negara. Kata Bung Karno pula, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Mari hargai mereka, hormati mereka, doakan mereka. Janganlah kita menjadi bangsa yang durhaka.








