KUPANG –
**Borneonews - Kupang**, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang yang berlokasi di Nusa Tenggara Timur baru-baru ini melaporkan kejadian tragis terkait seekor dugong (*Dugong dugon*) yang terdampar dan ditemukan dalam keadaan mati di pesisir pantai Desa Pariti, yang termasuk dalam wilayah Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang. Ketika dugong tersebut ditemukan, kondisinya sudah sangat memburuk akibat proses pembusukan yang berlangsung sekitar 3 hingga 5 hari. Kepala BKKPN Kupang, Imam Fauzi, menjelaskan bahwa kondisi tubuh dugong menunjukkan indikasi bahwa hewan tersebut mungkin telah diserang oleh ikan hiu, mengingat bagian ekornya ditemukan putus. Penemuan luka gigitan yang seragam di beberapa bagian tubuhnya memperkuat dugaan ini. Tim dari BKKPN melakukan pengukuran terhadap dugong yang terdampar. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa panjang total dugong tersebut mencapai 210 sentimeter dengan lingkar badan 160 sentimeter. Selain itu, panjang sirip diukur sekitar 40 sentimeter, lebar sirip mencapai 15 sentimeter, dan lebar ekor 70 sentimeter. Dugong yang ditemukan ini berjenis kelamin jantan. Sebagai langkah selanjutnya, tim BKKPN mengambil sampel daging dan kulit dari dugong tersebut untuk keperluan penelitian. Mengingat kondisi dugong yang sudah membusuk, pihak BKKPN segera melakukan penguburan terhadap hewan tersebut. Lebih dari sekedar merespons peristiwa ini, BKKPN Kupang juga mengambil inisiatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai perlindungan terhadap biota laut. Mereka membagikan brosur yang berisi informasi tentang berbagai jenis biota laut yang dilindungi kepada warga di sekitar Desa Pantai Pariti. Tim BKKPN menjelaskan kepada masyarakat bahwa dugong termasuk dalam kategori mamalia laut yang mendapat perlindungan sesuai hukum yang berlaku. Oleh karena itu, meskipun dugong tersebut sudah mati, berbagai bagian tubuhnya tetap dilarang untuk dimanfaatkan. Dalam upaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut, sosialisasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga populasi dugong dan biota laut lainnya. ANTARA