JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Anggota Ombudsman Republik Indonesia, Yeka Hendra Fatika, memberikan dukungan terhadap program cetak sawah melalui peningkatan sistem irigasi. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pemerintah untuk mengoptimalkan produksi padi nasional, baik melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi. Yeka menyebutkan bahwa peningkatan produksi padi dapat tercapai jika cetak sawah dilaksanakan secara efektif. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah kemampuan dalam pelaksanaan tersebut. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemetaan dan identifikasi daerah yang menjadi prioritas untuk pengembangan sistem irigasi yang memadai. Penguatan infrastruktur irigasi dianggap sebagai faktor kunci dalam memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian. Menurut Yeka, cetak sawah bukanlah konsep baru, sehingga diskusi mengenai apakah perlu dilakukan cetak sawah harus berorientasi pada kepentingan petani. Di sisi lain, pengelolaan dan pengembangan cetak sawah seharusnya dipimpin oleh individu yang memiliki keahlian dalam sektor tanaman pangan dan pertanian secara keseluruhan. Lebih lanjut, Yeka menekankan pentingnya pengelolaan yang tepat terhadap lahan sawah yang akan dicetak, serta memastikan siapa yang akan menerima dan mengelola lahan itu. Jika semua aspek ini diurus dengan baik, Yeka yakin produksi pertanian di Indonesia akan meningkat signifikan. Mengenai model irigasi yang ideal, Yeka merekomendasikan penggunaan metode pengairan yang tidak melibatkan pipa. Hal ini dikarenakan pipa rentan terhadap kerusakan dan pencurian, yang akan membebankan anggaran lebih untuk perbaikan. Sebagai solusinya, ia menyarankan perlunya membangun saluran irigasi yang jelas agar sistem irigasi dapat berfungsi dengan optimal. Kementerian Pertanian saat ini tengah giat mengimplementasikan proyek cetak sawah dalam skala besar sebagai langkah strategis ke depan untuk mempercepat swasembada pangan dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu lumbung pangan dunia. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa pembangunan sarana dan prasarana pertanian, termasuk infrastruktur irigasi serta akses jalan menuju lahan pertanian, sedang dalam proses. Upaya ini dimaksudkan agar ketersediaan pangan bagi generasi mendatang dapat terjaga dengan baik. Dijelaskan bahwa pentingnya program cetak sawah dikarenakan adanya pertambahan jumlah penduduk yang rata-rata mencapai 3,5 juta jiwa setiap tahunnya. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, angka tersebut dapat menjangkau hingga 35 juta jiwa, sehingga perlu disiapkan lahan pertanian yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan. Sebagai contoh, program optimasi lahan dan cetak sawah dapat dilihat di Merauke, yang telah berhasil menerapkan mekanisasi pertanian serta pembangunan sistem irigasi untuk mendukung pengembangan pertanian padi. Hingga saat ini, sekitar 40.000 hektar lahan sudah teroptimasi dengan produksi yang maksimal, melalui pengelolaan irigasi yang baik. Ketua Task Force Cetak Sawah di Kementerian Pertanian, Husnain, menambahkan bahwa pemerintah merencanakan untuk memperluas area pertanian melalui Program Cetak Sawah seluas 3 juta hektare dalam periode 2025 hingga 2027. Hal ini ditujukan untuk mencapai kedaulatan pangan dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu lumbung pangan dunia. Husnain juga mengingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi berdampak pada ketahanan pangan dan ekonomi global jika tidak diatasi dengan langkah-langkah yang tepat. Oleh karena itu, persiapan harus dilakukan mulai sekarang, dengan daerah prioritas untuk program ini mencakup Merauke di Papua Selatan dan Kalimantan Tengah masing-masing 1 juta hektare, Kalimantan Selatan 500 ribu hektare, serta Sumatera Selatan 250 ribu hektare. Sisanya akan tersebar di provinsi lain, mencapai total 250 ribu hektare. ANTARA