SURABAYA –
**Borneonews - Kediri**, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri, Jawa Timur, baru-baru ini mengumumkan perkembangan positif dalam sektor perbankan di wilayah tersebut. Hal ini terlihat dari pertumbuhan penyaluran kredit serta penghimpunan dana yang menunjukkan angka yang menggembirakan. Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, pada posisi Agustus 2024, penyaluran kredit pada perbankan telah tumbuh sebesar 9,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai total Rp85,26 triliun. Penyaluran kredit ini sebagian besar dialokasikan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dengan proporsi mencapai 62,30 persen dari total penyaluran kredit. Lebih lanjut, Ismirani menjelaskan bahwa penyaluran kredit di OJK Kediri didominasi oleh tiga sektor ekonomi utama. Sektor perdagangan besar dan eceran tercatat sebagai yang tertinggi, mencapai angka 26,65 persen. Sektor lainnya, yakni kepemilikan rumah dan kendaraan, mencakup 23,62 persen, sementara sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan menyumbang 14,48 persen. Meskipun pertumbuhan kredit menunjukkan perkembangan yang positif, ada catatan mengenai perlambatan jika dibandingkan dengan Agustus 2023. Menurut Ismirani, hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk keengganan pelaku usaha untuk melakukan ekspansi di tengah persaingan pemilu dan pilkada serentak yang akan berlangsung pada tahun 2024. Meskipun demikian, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio *Non Performing Loan* (NPL) gross yang tercatat sebesar 2,36 persen. Sekarang beralih ke Dana Pihak Ketiga (DPK), OJK Kediri mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,50 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total mencapai Rp103,51 triliun pada Agustus 2024. Dalam konteks jenisnya, tabungan dan deposito masing-masing menyumbang porsi besar, yaitu 62,77 persen dan 26,19 persen. Kondisi industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) di wilayah kerja OJK Kediri juga menunjukkan performa yang memuaskan. Hal ini ditunjukkan oleh rasio *Capital Adequacy Ratio* (CAR) yang mencatatkan angka 40,11 persen dan tingkat ketersediaan likuiditas yang cukup baik, tercermin dari *cash ratio* sebesar 16,01 persen. Sementara rasio *Loan to Deposit Ratio/Financing to Deposit Ratio* (LDR/FDR) berada pada angka 97,79 persen. Menurut data terbaru, posisi *outstanding* piutang perusahaan pembiayaan juga menunjukkan peningkatan, mencapai Rp6,74 triliun pada Agustus 2024, atau tumbuh 11,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Menariknya, rasio *Non Performing Financing* (NPF) gross berhasil turun dari 5,15 persen pada Agustus 2023 menjadi 4,09 persen. Dari sisi lembaga keuangan mikro, total aset juga mengalami peningkatan yang sebesar 1,13 persen, dengan total mencapai Rp116,94 miliar pada April 2024. Kendati demikian, pembiayaan yang dicatatkan oleh lembaga keuangan mikro mengalami penurunan 5,32 persen tahun ke tahun menjadi Rp78,25 miliar, disebabkan oleh percepatan pembayaran angsuran. Saat ini, terdapat 13 lembaga keuangan mikro di bawah pengawasan OJK Kediri, terdiri dari delapan LKM Konvensional dan empat LKM Syariah, termasuk Bank Wakaf Mikro. OJK Kediri juga berkomitmen untuk memberikan layanan kepada konsumen dengan menyediakan informasi, konsultasi, dan menerima pengaduan masyarakat terkait sektor jasa keuangan. Hingga September 2024, OJK Kediri mencatatkan telah menerima 1.081 permintaan layanan konsumen, termasuk 590 surat pengaduan dan 413 permintaan konsultasi serta informasi. Ismirani mengungkapkan bahwa ada tiga topik utama dalam pengaduan yang diterima, yakni terkait restrukturisasi atau relaksasi kredit dan pembiayaan, data sistem layanan informasi keuangan, serta pengalihan kredit atau pembiayaan. Sebagian besar pengaduan berasal dari sektor perbankan yang mencakup 63,00 persen dari total keluhan yang diterima, diikuti oleh sektor perusahaan pembiayaan yang menyumbang 19,33 persen. ANTARA