JAKARTA –
**Borneonews - Beirut**, Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, menyatakan bahwa prioritas utama negara tersebut adalah menciptakan gencatan senjata serta mengakhiri agresi yang dilakukan oleh Israel. Dalam pernyataannya, Mikati menekankan pentingnya menjaga keamanan dan keselamatan seluruh warga Lebanon. Ini disampaikan pada hari Sabtu dalam pertemuan dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang berkunjung ke Beirut untuk agenda satu hari. Mikati juga menegaskan komitmennya untuk sepenuhnya melaksanakan Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701. Resolusi ini berisi keharusan untuk memperkuat kehadiran angkatan bersenjata Lebanon di wilayah selatan negara tersebut. Ia menekankan perlunya kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan internasional dan PBB untuk memberikan tekanan kepada Israel agar mematuhi ketentuan-ketuannya. "Prioritas pemerintah saat ini adalah upaya untuk mencapai gencatan senjata, menghentikan agresi dari Israel, serta menjaga keamanan Lebanon dan keselamatan warga negaranya," tegas Mikati. Dalam konteks yang berkaitan, Mikati juga menerima telepon dari utusan AS, Amos Hochstein, untuk mendiskusikan langkah-langkah dalam mencapai gencatan senjata serta menghentikan konflik militer dengan Israel. Mereka juga membahas kemungkinan solusi politik yang komprehensif berdasarkan resolusi PBB. Setelah rapat kabinet pada hari Jumat, Mikati mengungkapkan bahwa *Hizbullah* merupakan mitra dalam pemerintahan Lebanon dan telah sepakat untuk melaksanakan Resolusi 1701 tersebut. Dia menuturkan bahwa Kementerian Luar Negeri Lebanon telah mengajukan permohonan kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera melaksanakan gencatan senjata dan penegakan penuh terhadap resolusi itu. Resolusi 1701, yang diadopsi pada 11 Agustus 2006, menyerukan penghentian total permusuhan antara Lebanon dan Israel serta pembentukan zona demiliterisasi, yang hanya diizinkan diisi oleh tentara Lebanon dan pasukan sementara PBB di Lebanon (*UNIFIL*). Zona ini bertujuan untuk membatasi penggunaan senjata dan peralatan militer di wilayah tersebut. Perlu dicatat bahwa sejak 23 September, Israel telah melakukan serangkaian serangan udara besar-besaran ke Lebanon dengan tujuan menargetkan kelompok *Hizbullah*. Serangan yang berlangsung selama periode tersebut telah mengakibatkan sedikitnya 1.351 orang tewas dan lebih dari 3.800 lainnya mengalami luka-luka, sementara lebih dari 1,2 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Serangan udara ini merupakan sebuah eskalasi yang signifikan dari konflik yang sudah berlangsung selama setahun antara Israel dan *Hizbullah*, yang dimulai bersamaan dengan operasi militer Israel di Jalur Gaza. Sejak serangan itu, Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 42.100 orang. ANTARA